Aliansi Jurnalis Persada: Jika Pancasila Mati di Ruang Redaksi, Maka Bangsa Ini Tak Lagi Punya Penjaga Nurani

Metro, lampungsai.com,- Hari ini Pancasila diperingati di podium-podium resmi, disuarakan di mimbar-mimbar kenegaraan. Tapi bagi Aliansi Jurnalis Persada, Pancasila tidak butuh dimeriahkan—ia butuh diperjuangkan. Dan medan juangnya bukan di upacara, melainkan di ruang redaksi, di balik layar berita, di hati para jurnalis.

 

Ketua Umum Aliansi, Toma Alfa Edison, menyampaikan pernyataan yang bukan sekadar refleksi, tapi tamparan: terlalu banyak media yang melupakan akarnya, tenggelam dalam euforia digital, tunduk pada pemilik modal, dan pada akhirnya menjauh dari watak bangsa.

 

Pers kita hari ini banyak bicara tentang kebebasan, tapi lupa pada keberpihakan. Bebas memberitakan segalanya, tapi bisu ketika rakyat diinjak,” ujarnya tegas. “Kalau Pancasila tidak hidup di pena jurnalis, ia akan mati di tangan mereka yang seharusnya menjaganya.”

 

Menurut Toma, yang dibutuhkan bukan lebih banyak media, tapi lebih banyak keberanian. Bukan jurnalis yang pintar merangkai kata, tapi yang berani menuliskan kebenaran meski tidak populer.

 

Aliansi Jurnalis Persada melihat gejala mengkhawatirkan: berita jadi ladang transaksi, narasi dibentuk berdasarkan pesanan, dan wartawan terpaksa memilih diam demi kenyamanan. Dalam situasi seperti ini, menyebut diri sebagai insan pers tanpa membawa nilai adalah pengingkaran.

 

Pers tidak cukup hanya faktual. Ia harus berpihak—dan keberpihakan itu bukan pada kekuasaan atau pasar, tapi pada nilai, pada nurani,” kata Toma.

 

Pancasila, bagi Aliansi Jurnalis Persada, bukan simbol yang dipasang di dinding redaksi. Ia adalah arah. Ketika media mengaburkan batas antara kebenaran dan kepentingan, Pancasila-lah yang seharusnya menjadi penunjuk jalan.

 

Kalau wartawan mulai menimbang untung-rugi sebelum menulis kebenaran, maka sesungguhnya ia sedang menghianati nilai yang seharusnya jadi pondasi profesinya,” ucap Toma, lantang.

 

Ia menambahkan, justru di tengah zaman ketika suara bisa dibeli dan opini bisa dipesan, wartawan sejati harus jadi batu yang tak tergoyahkan. Pancasila bukan sekadar latar sejarah; ia adalah harga diri.

 

Aliansi Jurnalis Persada tidak menuntut semua media menjadi sempurna. Mereka hanya meminta satu hal: kembali ke jalan sunyi kebenaran. Jalan yang tak menjanjikan popularitas, tapi menyelamatkan martabat. Jalan yang membuat pers tetap layak dipercaya.

 

Di akhir pernyataannya, Toma menutup dengan satu kalimat yang menghentak:

 

Jika kita tak lagi bisa menulis dengan hati, maka jangan heran kalau bangsa ini perlahan kehilangan jiwanya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *