“Politik Rasa Sinetron di Kahono: Ketika Wakil Rakyat Lupa Diri”

Kahono, kampung kecil yang dulu damai, kini riuh oleh kabar miring: dua anggota parlemen lokal diduga terlibat perselingkuhan. Bukan hanya sekadar isu personal, tapi sudah menjelma menjadi tontonan politik yang memuakkan. Rakyat menonton, bukan karena kagum, tapi karena bingung: bagaimana bisa mereka yang diberi mandat justru main hati di atas penderitaan rakyat?

Di tengah harga sembako yang terus menanjak, jalan rusak tak kunjung diperbaiki, dan pengangguran yang kian tinggi, dua politisi itu justru asyik mempererat relasi pribadi. Ruang sidang berubah fungsi, permainan hati jadi panggung drama. Tatapan penuh arti dan bisik-bisik mesra lebih ramai dibicarakan ketimbang hasil kerja mereka.

“Kalau selingkuh jadi prioritas, kapan sempat mikirin rakyat?” sindir Abas bujang tua yang selalu sibuk dengan kegiatan nganggurnya.

Tak mau kalah, bude warni tukang pijit andalan ikut menimpali, “Kami pilih mereka bukan buat main sandiwara cinta. Kalau memang jago bermain hati, lebih baik jadi aktor sinetron, bukan wakil rakyat.

”Tentu isu ini merusak kepercayaan publik, mencoreng nilai-nilai ketimuran yang menjunjung etika dan rasa malu, bahkan anggaran yang semestinya untuk rakyat justru dikhawatirkan jadi biaya diam-diam untuk ‘kencan dinas’. Lalu secara politik, lembaga legislatif kehilangan wibawa—terlindas oleh kelakuan oknumnya sendiri.

Harapan rakyat sederhana: jika tak mampu memberi solusi, setidaknya jangan beri malu. Jika tak bisa membela rakyat, jangan pula khianati kepercayaan.

Karena di Kahono, suara rakyat mulai menggema: “Rakyat perlu kerja nyata, bukan drama cinta!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *