Metro, lampungsai.com – Di tengah semangat reformasi pelayanan publik, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Persada, Toma Alfa Edison, menegaskan pentingnya menjaga nilai dan idealisme Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sebagai pilar transformasi sektor kesehatan di daerah. Menurutnya, BLUD bukan hanya sistem keuangan baru, tetapi juga wujud kematangan moral dan profesionalisme pelayanan yang berpihak pada rakyat.
BLUD adalah simbol kepercayaan negara kepada lembaga publik agar lebih cepat, lebih mandiri, dan lebih berorientasi pada kepuasan masyarakat. Nilainya bukan di angka, tapi di niat tulus melayani,” ujar Toma saat bincang diskusi ringan tentang reformasi pelayanan daerah, Kamis (23/10/2025).
Dalam pandangan Toma, penerapan BLUD merupakan lompatan besar dalam cara pemerintah melayani masyarakat. Melalui pola pengelolaan keuangan yang lebih fleksibel, BLUD memungkinkan rumah sakit daerah bertindak cepat dalam mengambil keputusan penting — mulai dari pengadaan obat, peningkatan fasilitas, hingga pengembangan SDM.
Fleksibilitas ini bukan berarti bebas tanpa aturan. Justru ini bukti bahwa pemerintah percaya pada kemampuan manajemen daerah untuk melayani dengan cara yang lebih cerdas dan efisien,” jelasnya.
Menurutnya, kunci keberhasilan BLUD ada pada keseimbangan antara profesionalitas dan empati. Rumah sakit yang dikelola secara BLUD diharapkan tak hanya cepat dan transparan, tetapi juga mampu menghadirkan suasana pelayanan yang hangat dan manusiawi.
Toma menuturkan, ada tujuh nilai utama yang menjadi jiwa dari sistem BLUD, yaitu:
1. Pelayanan prima yang berorientasi pada kepuasan masyarakat.
2. Profesionalitas dalam setiap aspek manajemen dan tindakan medis.
3. Akuntabilitas terhadap publik, baik dalam pengelolaan keuangan maupun kinerja layanan.
4. Efisiensi dan produktivitas, agar sumber daya digunakan tepat guna.
5. Kemandirian, sebagai bentuk kedewasaan lembaga publik.
6. Inovasi, untuk terus memperbarui cara kerja sesuai kebutuhan zaman.
7. Integritas dan kemanusiaan, yang menjadi dasar moral seluruh aparatur BLUD.
Nilai-nilai ini adalah kompas moral. Kalau dijalankan dengan sungguh-sungguh, BLUD bukan hanya efektif, tapi juga bermartabat,” ujar Toma dengan senyum manisnya.
Lebih jauh, Toma menekankan bahwa rumah sakit daerah adalah wajah paling nyata dari pelayanan pemerintah. Ketika masyarakat datang ke rumah sakit, mereka tak hanya mencari obat, tetapi juga harapan dan kepastian.
Di ruang tunggu rumah sakit, kita melihat wajah-wajah yang menaruh harapan besar pada negara. Maka dari itu, idealisme BLUD harus diterjemahkan dalam tindakan nyata: senyum perawat, ketulusan dokter, kecepatan layanan, dan transparansi biaya,” kata Toma.
Ia meyakini, bila seluruh unsur manajemen BLUD berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan, maka kepercayaan publik akan tumbuh dengan sendirinya.
Kepercayaan itu adalah modal sosial terbesar. Tanpa kepercayaan, pelayanan akan terasa dingin. Tapi dengan kepercayaan, setiap tindakan kecil bisa jadi cahaya bagi masyarakat,” ujarnya lembut.
Dalam era digital saat ini, Toma juga menyoroti pentingnya transformasi teknologi di lingkungan BLUD. Menurutnya, profesionalitas tanpa inovasi akan tertinggal, sementara inovasi tanpa nilai akan kehilangan arah.
Teknologi bisa membantu rumah sakit mempercepat pelayanan, memperkuat data kesehatan, dan memastikan efisiensi penggunaan anggaran. Namun di atas semua itu, nilai-nilai kemanusiaan harus tetap menjadi prioritas,” jelasnya.
Ia menilai, banyak rumah sakit daerah kini mulai mengadopsi sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS), pelayanan berbasis digital, hingga sistem antrean daring.
Itu langkah maju yang patut diapresiasi. Namun yang paling penting adalah semangat melayani yang ikhlas — itulah inti idealisme BLUD,” tambahnya.
Toma juga mengingatkan bahwa keberhasilan BLUD tidak hanya bergantung pada manajemen internal, tetapi juga pada dukungan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, media, akademisi, dan masyarakat sipil harus saling menguatkan. BLUD bukan proyek satu instansi, melainkan gerakan bersama untuk menciptakan pelayanan publik yang bermartabat,” ujarnya.
Sebagai contoh, RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro layak menjadi inspirasi. Menurut Toma, rumah sakit ini telah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga idealisme BLUD dengan pelayanan yang semakin profesional, transparan, dan humanis.
Langkah-langkah pembenahan yang dilakukan RSUD Ahmad Yani mencerminkan semangat perubahan yang sehat. Saya berharap rumah sakit ini terus menjadi teladan, bukan hanya dalam mutu layanan, tetapi juga dalam ketulusan melayani masyarakat Metro,” tutur Toma penuh apresiasi.
Aliansi Jurnalis Persada, lanjutnya, akan terus berperan dalam memberikan dukungan moral dan ruang publik bagi transparansi serta inovasi pelayanan.
Media adalah mitra perubahan, bukan sekadar pengawas. Kami ingin menjadi bagian dari gerakan yang memperkuat nilai kemanusiaan dalam setiap kebijakan publik,” katanya.
Menurut Toma, transformasi BLUD juga mengubah paradigma aparatur negara — dari sekadar pelaksana administrasi menjadi pelayan masyarakat sejati.
Kalau dulu kita sibuk dengan laporan, sekarang kita harus lebih sibuk dengan manfaat. BLUD mengajarkan bahwa pelayanan publik bukan sekadar tugas, tapi pengabdian,” ujarnya.
Ia memberi contoh bahwa di banyak daerah, penerapan BLUD telah berhasil meningkatkan kualitas layanan rumah sakit — mulai dari peningkatan ketersediaan obat, ruang rawat yang lebih baik, hingga layanan gawat darurat yang lebih cepat.
Ketika sistem bekerja dengan hati, hasilnya terasa oleh rakyat. Dan itu yang ingin kita lihat dari seluruh rumah sakit BLUD di Indonesia,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Toma Alfa Edison mengajak seluruh pengelola BLUD untuk menjadikan nilai idealisme sebagai ruh dari setiap keputusan dan kebijakan.
Fleksibilitas tanpa nilai akan kehilangan makna. Tapi jika fleksibilitas itu diisi dengan semangat melayani, maka BLUD akan menjadi tonggak peradaban pelayanan publik kita,” ujarnya.
Ia optimistis, masa depan pelayanan kesehatan di Indonesia akan semakin baik bila sistem BLUD dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kasih.
Negara hadir bukan hanya lewat kebijakan, tapi lewat sikap orang-orang yang bekerja di dalamnya. Setiap dokter, perawat, dan pegawai BLUD adalah wajah kemanusiaan yang membuat masyarakat percaya pada pemerintah,” kata Toma menutup wawancara.












