Toma : Kota Metro Butuh Kadis Pendidikan yang Paham Jiwa Anak, Belajar dari Kasus Cimarga

Metro, lampungsai.com – Di tengah hiruk-pikuk seleksi terbuka jabatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Metro, muncul satu pertanyaan mendasar yang menggema di ruang publik: apa arti pendidikan tanpa moralitas?

Kota Metro yang selama ini dikenal dengan julukan Kota Pendidikan kini tengah mencari sosok pemimpin baru di sektor pendidikan. Enam pejabat resmi bersaing memperebutkan kursi strategis itu. Namun di luar proses administrasi dan wawancara, masyarakat menunggu sesuatu yang lebih penting—arah baru pendidikan yang lebih manusiawi di tengah krisis karakter siswa.

Beberapa pekan terakhir, seorang kepala sekolah di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak,  menampar siswanya yang ketahuan merokok di kantin sekolah. Peristiwa itu cepat viral. Gubernur Banten, Andra Soni, turun tangan langsung untuk menengahi polemik yang memanas.

Tindakan itu berawal dari teguran kepala sekolah terhadap siswanya yang merokok di area sekolah—tindakan yang dianggap melanggar norma dan aturan. Namun teguran berubah menjadi emosi, dan tamparan pun melayang.

Yang terjadi setelahnya justru lebih rumit. Alih-alih mendapat dukungan, sang kepala sekolah malah disorot tajam di media sosial. Sementara sang siswa justru menuai simpati. Sebuah ironi yang menunjukkan bagaimana otoritas moral sekolah kini tengah diuji.

Kasus Cimarga mungkin terjadi ratusan kilometer dari Metro. Tapi gema moralnya terdengar jelas sampai ke kota kecil di Lampung ini. Kemungkinan besar Para guru di Metro tentu menghadapi persoalan serupa: siswa semakin sulit diatur, sopan santun menurun, dan semangat belajar digantikan oleh candu gawai.

Fenomena itu nyata. Banyak guru frustrasi menghadapi anak-anak yang sudah tidak takut salah. Mereka lebih percaya pada tren media sosial daripada nasihat guru,” ujar Toma Alfa Edison, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Persada (AJP), saat dimintai pandangan, Minggu (19/10/2025).

Menurut Toma, seleksi Kepala Dinas Pendidikan kali ini tidak boleh diperlakukan seperti lelang jabatan biasa.

Kadis Pendidikan bukan hanya pejabat administratif. Ia adalah penjaga nilai moral di balik tembok sekolah. Kalau sosoknya salah, maka arah pendidikan Metro akan kehilangan jiwa,” tegasnya.

Berdasarkan data Panitia Seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) Pemkot Metro, ada enam pejabat yang dinyatakan memenuhi syarat dan mengikuti seleksi untuk jabatan Kepala Disdikbud:

1. Eka Syafrianto, Kabag Kesejahteraan Rakyat Pemkot Metro.

2. Dr. Agus Muhammad Septiana, Kabid Pengembangan Kompetensi Manajerial BPSDM Provinsi Lampung.

3. Edward MZ, Pelaksana BPPRD Kota Metro.

4. Fezal Aferizal, Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Metro.

5. Zaki Mubaroq, Kabag Organisasi Sekretariat Daerah Kota Metro.

6. Martati, Kepala UPTD SMP Negeri 2 Metro.

 

Keenamnya akan mengikuti tahap seleksi kompetensi teknis, manajerial, sosial kultural, dan penyampaian visi misi. Tapi publik berharap, yang diuji bukan sekadar kecakapan administrasi—melainkan visi moral dan empati sosial terhadap dunia anak dan guru.

Toma Alfa Edison mengingatkan bahwa banyak pejabat pendidikan kehilangan semangat guru ketika menduduki jabatan tinggi.

Kita sering melihat pejabat yang pandai menandatangani surat, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sekolah. Padahal, pendidikan bukan soal laporan—tapi soal jiwa,” ujarnya.

Ia menilai, meningkatnya kasus siswa bermasalah menunjukkan lemahnya pembinaan karakter di sekolah. Program literasi dan kurikulum digital berjalan, tapi aspek kepribadian siswa dibiarkan kering.

Anak-anak tidak menjadi nakal dalam semalam. Mereka kehilangan arah karena tidak ada figur yang membimbing dengan hati. Kadis Pendidikan harus jadi figur itu,” kata Toma.

Dalam pandangan Aliansi Jurnalis Persada, ada beberapa kriteria yang semestinya menjadi pedoman utama dalam menentukan sosok Kadis Pendidikan Metro yang ideal:

1. Berpengalaman langsung di dunia sekolah.
Calon kadis sebaiknya punya akar pengalaman sebagai guru atau kepala sekolah atau minimal memahami psikologi siswa dan dinamika ruang belajar.

2. Memiliki kepekaan sosial dan empati tinggi.
Anak-anak bukan objek kebijakan, tapi subjek yang perlu didengarkan. Pemimpin pendidikan harus bisa membaca suasana batin sekolah.

3. Berintegritas dan tegas terhadap penyimpangan.
Dunia pendidikan harus bebas dari titipan politik dan praktik anggaran yang kotor. Keteladanan dimulai dari puncak pimpinan.

4. Visioner, tapi humanis.
Di era digital, kepala dinas perlu punya visi teknologi, tapi tidak boleh kehilangan rasa kemanusiaan.

5. Turun ke lapangan, bukan duduk di balik meja.
Kadis yang baik bukan yang rajin menghadiri seremonial, tapi yang datang tanpa kamera, mendengar keluhan guru, dan menyapa siswa,” ujar Toma.

 

Kisah SMAN 1 Cimarga adalah cermin retak dunia pendidikan kita. Kepala sekolah ingin menegakkan disiplin, tapi akhirnya sebagian besar publik menghakimi.
Toma memandang, kejadian itu harus menjadi alarm bagi semua pihak—terutama pejabat pendidikan—untuk menata ulang pendekatan terhadap anak.

Kedisiplinan penting, tapi empati jauh lebih penting. Kadis Pendidikan Metro nanti harus punya keseimbangan antara ketegasan dan pemahaman psikologis. Jangan sampai anak dihukum tanpa didengar,” ujarnya.

Toma menilai bahwa arus media sosial yang deras membuat hubungan guru-siswa menjadi rapuh. “Zaman dulu guru adalah panutan. Sekarang guru bisa diserang karena satu kesalahan kecil yang direkam. Kadis baru harus mampu melindungi marwah guru, tapi juga mengembalikan rasa hormat siswa kepada sekolah,” lanjutnya.

Kota Metro selama ini dikenal dengan banyaknya lembaga pendidikan, dari sekolah negeri hingga universitas. Namun di balik kebanggaan itu, muncul kegelisahan baru. Kasus kenakalan remaja, bullying, hingga penyalahgunaan teknologi di kalangan pelajar meningkat.

Predikat Kota Pendidikan tidak boleh hanya jadi slogan di spanduk. Ia harus terlihat dari perilaku anak-anak di jalan, di kelas, dan di rumah,” kata Toma Alfa Edison.

Menurutnya, jika Kota Metro ingin mempertahankan reputasi itu, maka pemimpin pendidikannya harus memiliki nyali moral — bukan hanya kecakapan administrasi.

Seleksi terbuka jabatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro bukan sekadar rutinitas birokrasi. Ia adalah momentum moral untuk menentukan arah masa depan pendidikan.

Jangan sampai jabatan ini hanya jatuh ke tangan orang yang pandai menulis visi di kertas, tapi tak pernah turun ke ruang kelas. Pendidikan Metro butuh roh baru — pemimpin yang mengajar dengan keteladanan, bukan kekuasaan,” pungkas Toma Alfa Edison.

Kisah Cimarga menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan kini berada di bawah sorotan publik yang sensitif. Di tengah era digital dan krisis karakter, Kota Metro punya kesempatan langka untuk menunjukkan bahwa pendidikan sejati tidak diukur dari nilai ujian, melainkan dari bagaimana kita menjaga martabat manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *