Metro, lampungsai.com — Di balik dinamika pembangunan dan kemajuan daerah, ada satu institusi yang perannya tak pernah berhenti berdetak: Dinas Kesehatan. Lembaga ini berdiri di garis depan, menjaga denyut kehidupan masyarakat, dari bayi yang baru lahir hingga lansia yang membutuhkan perawatan. Dalam senyap, mereka adalah garda paling nyata dari hadirnya negara di tengah rakyat.
Ketua Umum Aliansi Jurnalis Persada (AJP), Toma Alfa Edison, menilai Dinas Kesehatan adalah simbol kemanusiaan dalam birokrasi.
Mereka bukan hanya mengurus data, program, atau anggaran. Mereka menjaga nyawa, menjaga masa depan,” ujarnya dalam bincang ringan, selasa (21/10/2025).
Menurut Toma, Dinas Kesehatan memiliki tanggung jawab yang jauh melampaui urusan administratif. Ia adalah penghubung langsung antara kebijakan pemerintah dan harapan masyarakat.
Setiap kebijakan kesehatan menyentuh manusia secara langsung. Di sinilah pentingnya nilai-nilai empati, profesionalitas, dan kecepatan tanggap,” katanya.
Dalam pandangan Toma, keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari infrastruktur atau ekonomi, tetapi dari seberapa sehat warganya.
Jika kesehatan masyarakat kuat, produktivitas akan naik, pendidikan membaik, dan kesejahteraan meningkat. Kesehatan adalah fondasi semua sektor,” ujarnya.
Dinas Kesehatan, lanjut Toma, adalah pilar utama pelayanan dasar pemerintah daerah. Ia memayungi berbagai sektor: mulai dari puskesmas, rumah sakit daerah, laboratorium kesehatan, farmasi, hingga layanan gizi dan imunisasi.
Kadang kita lupa, petugas Dinas Kesehatan ada di mana-mana: di puskesmas, posyandu, klinik, hingga ruang isolasi ketika wabah melanda. Mereka hadir saat semua orang bersembunyi. Itulah bentuk pengabdian yang luar biasa,” tutur Toma.
Ia menambahkan, Dinas Kesehatan juga menjadi penjaga kepercayaan publik.
Warga menilai pemerintah dari bagaimana mereka dilayani di rumah sakit atau puskesmas. Jika pelayanannya baik, maka kepercayaan rakyat pada negara juga akan tumbuh,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak Dinas Kesehatan yang telah bertransformasi melalui sistem Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Sistem ini memberikan keleluasaan bagi rumah sakit dan puskesmas untuk mengelola keuangan secara lebih fleksibel, cepat, dan transparan, tanpa mengorbankan prinsip akuntabilitas.
Toma menilai penerapan BLUD adalah langkah besar menuju reformasi pelayanan publik yang modern.
BLUD itu bukan sekadar sistem keuangan, tapi filosofi kepercayaan. Pemerintah percaya bahwa pengelola layanan kesehatan bisa bertindak cepat dan bijak untuk melayani masyarakat,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara fleksibilitas dan nilai kemanusiaan.
Kalau sistem ini dijalankan dengan hati, maka puskesmas dan rumah sakit daerah akan menjadi pusat pelayanan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.”
Di era digital, Dinas Kesehatan dituntut beradaptasi. Dari sistem antrean online, aplikasi konsultasi kesehatan, hingga rekam medis digital, inovasi menjadi keniscayaan.
Namun, menurut Toma, inovasi hanya bermakna bila berpihak pada masyarakat.
Inovasi bukan tentang teknologi semata, tapi bagaimana membuat layanan lebih cepat, transparan, dan mudah dijangkau. Setiap langkah kecil menuju efisiensi adalah langkah besar bagi warga yang membutuhkan,” ujarnya.
Toma juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor.
Dinas Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri. Harus bersinergi dengan Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, BPJS, bahkan media. Semua harus berjalan dalam satu visi: masyarakat sehat dan bahagia,” katanya.
Lebih dari sekadar lembaga teknis, Dinas Kesehatan juga berperan membentuk budaya hidup sehat di tengah masyarakat. Melalui program PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), kampanye imunisasi, dan edukasi gizi, dinas berupaya menanamkan kesadaran sejak dini.
Budaya sehat itu tidak bisa dipaksakan, tapi harus diajarkan dengan contoh. Ketika petugas puskesmas turun langsung, mengajak warga menjaga kebersihan lingkungan, di situ nilai pelayanan publik sejati hadir,” ujar Toma.
Ia menambahkan, perubahan besar selalu dimulai dari hal sederhana.
Menjaga lingkungan, mencuci tangan, menjaga pola makan, dan rutin periksa kesehatan — itu adalah bentuk cinta pada kehidupan,” katanya.
Dalam setiap Dinas Kesehatan, ada sosok yang menjadi penggerak utama: Kepala Dinas Kesehatan.
Toma memuji peran para kepala dinas di berbagai daerah yang dengan tekun membangun sistem pelayanan yang bersih dan terukur.
Seorang Kepala Dinas Kesehatan bukan sekadar pejabat administratif. Ia adalah pemimpin moral dan organisator yang menyalurkan kebijakan pusat ke hati masyarakat,” ujar Toma.
Yang hebat bukan hanya yang punya gelar, tapi yang punya empati. Pemimpin kesehatan harus berani turun ke lapangan, mendengar keluhan masyarakat, dan menjadi solusi,” tambahnya.
Bagi Toma, esensi dari seluruh program kesehatan daerah adalah menghadirkan pelayanan yang berjiwa.
Bukan sekadar cepat dan tepat, tetapi juga penuh kasih dan penghargaan terhadap martabat manusia.
Pelayanan kesehatan yang ideal adalah yang membuat pasien merasa tenang, bukan sekadar tertolong,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tenaga kesehatan adalah profesi yang paling dekat dengan nilai kemanusiaan.
Dokter, perawat, dan bidan adalah pahlawan dalam keseharian kita. Mereka tidak hanya menyembuhkan tubuh, tapi juga menenangkan hati,” ujarnya.
Menutup perbincangan, Toma Alfa Edison menyampaikan harapannya agar Dinas Kesehatan di seluruh Indonesia terus memperkuat nilai-nilai integritas, kecepatan, dan kasih.
Dinas Kesehatan harus menjadi contoh bahwa birokrasi bisa manusiawi. Bahwa pelayanan publik bisa dijalankan dengan cinta,” tegasnya.
Ia juga menyebut pentingnya dukungan dari semua pihak — mulai dari masyarakat, pemerintah daerah, hingga media.
“Ketika semua bersatu, kesehatan bukan lagi tanggung jawab dinas semata, tapi menjadi gerakan bersama menuju Indonesia yang lebih sehat dan kuat,” ujarnya.
Dinas Kesehatan hari ini bukan lagi sekadar instansi pelaksana kebijakan. Ia adalah penjaga kehidupan, penyambung harapan, dan penggerak kemanusiaan.
Di balik setiap tindakan medis, ada nilai pengabdian. Di balik setiap kebijakan, ada doa agar warga tetap sehat.
Selama Dinas Kesehatan menjaga idealismenya, maka masyarakat akan terus percaya bahwa pemerintah benar-benar hadir untuk mereka,” pungkas Toma Alfa Edison.












