Opini Rakyat: Dari Kahono untuk Negeri – Ketika Kuasa Membungkam Kebenaran

Lampungsai.com,- Kami warga kampung Kahono tahu betul arti malu, tahu bedanya kerja dan main, tahu siapa yang kami beri amanah dan siapa yang cuma pintar bersilat lidah. Maka saat dua anggota perwakilan kampung kami terseret isu perselingkuhan, kami bukan sekadar kecewa—kami marah. Tapi yang paling menyakitkan bukan soal cintanya, melainkan soal kebenaran yang dibungkam.

Istri salah satu wakil kampung sempat lapor. Jelas-jelas membawa bukti, suara, dan luka. Tapi laporan itu tak sempat bernapas lama. Hilang. Dicabut. Konon katanya “urusan rumah tangga”. Tapi rakyat tahu, ini lebih dari itu.

Pertanyaannya: siapa yang minta laporan itu dihentikan? Dengan tekanan apa? Dengan imbalan apa?Ketika seorang istri tak lagi bisa menuntut keadilan karena suaminya pejabat, maka rakyat biasa makin tak punya harapan.

Lembaga yang harusnya jadi tempat berpihak pada yang lemah malah jadi benteng pelindung untuk yang berkuasa.Dan ini bukan kejadian pertama. Ini hanya satu dari sekian contoh bagaimana kekuasaan di negeri ini sering kali dipakai bukan untuk melayani rakyat, tapi untuk melindungi aib sendiri.

“Kalau istri sah saja bisa dikalahkan sistem, apalagi rakyat kecil kayak kita?” kata Abas di pos ronda, menggigit rokoknya yang tinggal separuh.Bude Warni, yang dari dulu langganan mijitin banyak pejabat, nyeletuk pahit, “Keadilan sekarang kalah sama jabatan. Selama punya nama dan kursi, semua bisa diatur, bahkan kebenaran.

”Ini bukan cuma tentang skandal moral. Ini soal sistem yang lumpuh. Tentang bagaimana lembaga politik yang katanya ‘terhormat’ ternyata bisa dibeli murah oleh rasa malu yang dibungkus uang, jabatan, dan jaringan.

Rakyat melihat, dan rakyat muak.Kami tidak akan berhenti bertanya:Kenapa laporan dihentikan?Siapa yang menekan?Apa yang ditakutkan?Dan yang paling penting: di mana rasa malu para wakil rakyat kampung kahono?Kalau pejabat bisa bersembunyi di balik institusi, lalu siapa yang melindungi kami dari kebusukan mereka?

Dari Kahono, kami hanya ingin mengingatkan:

Kekuasaan tanpa moral hanyalah tirani.

Lembaga tanpa keberanian menegakkan keadilan hanyalah papan nama kosong.

Dan demokrasi tanpa keberpihakan pada yang benar, hanya akan jadi panggung kebohongan.

Tapi ingat, kami punya suara. Dan suara rakyat tak bisa selamanya dibungkam.Karena sekali rakyat bangkit, tak ada kekuasaan yang cukup kuat untuk menghentikan gelombangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *