LampungSelatan — Malam di Desa Tejang biasanya tenang. Angin laut mengalir perlahan dari arah Selat Sunda, membawa aroma asin yang khas dari pesisir Pulau Sebesi. Namun, Jumat malam, 28 November 2025, suasana berubah ketika langkah-langkah aparat kepolisian memecah sunyi menuju sebuah rumah sederhana yang menjadi buruan lintas daerah.
Di tempat terpencil itulah pelarian seorang pria bernama Sutrisno (31) akhirnya terhenti. Ia sebelumnya dikaitkan dengan kasus pencurian bernilai besar—kerugian mencapai Rp600 juta—yang terjadi di kawasan padat penduduk Petamburan, Jakarta Barat. Setelah beberapa hari menghilang, pria asal Jati Agung, Lampung Selatan itu rupanya memilih sebuah pulau kecil sebagai tempat persembunyian, mungkin berharap jarak laut dan minimnya akses informasi dapat meredam jejaknya.
Namun, harapannya runtuh ketika tim Polsek Kalianda, yang dipimpin oleh Bhabinkamtibmas Aipda Deni Meydinistira, tiba setelah melakukan pelacakan yang berlapis. Informasi bergerak cepat melalui jaringan internal kepolisian hingga menjangkau titik-titik yang sulit dijangkau transportasi darat. Pulau Sebesi yang seolah terpisah dari hiruk pikuk daratan, malam itu menjadi panggung akhir dari upaya kaburnya.
Penangkapan dilakukan sekitar pukul 22.00 WIB, saat aliran listrik di desa mulai redup dan warga telah kembali ke rumah masing-masing. Tanpa perlawanan berarti, petugas mengamankan Sutrisno dan membawanya keluar dari pulau menuju daratan utama Lampung Selatan. Perjalanan laut yang biasanya menjadi jalur wisata, malam itu berubah menjadi rute pengawalan seorang buronan.
Setibanya di Kalianda, terduga pelaku langsung ditempatkan sementara di Ruang Tahanan Polres Lampung Selatan. Penitipan ini dilakukan sambil menunggu kedatangan tim penyidik dari Polsek Petamburan, yang akan membawa Sutrisno kembali ke Jakarta untuk menjalani proses hukum.
Peristiwa ini tidak hanya menutup perjalanan pelarian seorang tersangka, tetapi juga menegaskan kuatnya hubungan kerja antarsatuan kepolisian. Di tengah luasnya wilayah dan banyaknya sudut-sudut tersembunyi, upaya sinergis aparat menunjukkan bahwa ruang pelarian semakin sempit di era keterhubungan informasi.
Pulau Sebesi kembali tenang keesokan paginya. Hanya debur ombak yang menjadi saksi bahwa malam sebelumnya, sebuah pengejaran panjang lintas provinsi berakhir di desa kecil yang biasanya hanya disinggahi para wisatawan. Di sanalah jejak pelarian senilai ratusan juta rupiah resmi berakhir.












