Oleh : Sugeng Purnomo (Ketua DPC Aliansi Jurnalis Persada Way Kanan/kabiro lampungsai.com)
Way Kanan, Lampungsai.com —
Di tengah arus perubahan zaman dan transformasi sosial, kehadiran Ayu Asalasiyah sebagai Bupati Way Kanan membuka babak baru dalam sejarah kepemimpinan daerah: babak di mana perempuan tak hanya jadi pelengkap di kursi birokrasi, tetapi menjadi pengambil keputusan utama, penentu arah kebijakan, dan penyeimbang dalam proses pembangunan.
Dilantik pada 10 Juni 2025, Ayu menggantikan almarhum Ali Rahman untuk sisa masa jabatan 2025–2030. Namun lebih dari sekadar menggantikan, Ayu membawa warna baru—sebuah gaya kepemimpinan yang menyentuh hati rakyat: hangat, inklusif, tetapi tetap tegas dan berani mengambil langkah-langkah strategis.
Lahir dari keluarga pejuang politik lokal, Ayu membuktikan bahwa perempuan mampu berdiri sejajar di ruang pengambilan keputusan. Ia bukan pemimpin karena garis keturunan, melainkan karena kualitas yang telah ia bangun sejak lama—konsistensi dalam memperjuangkan rakyat, kerja nyata di lapangan, dan sikap terbuka dalam berdialog dengan siapa pun.
Ayu memahami betul bahwa politik bukan medan dominasi laki-laki, melainkan ruang pengabdian yang seharusnya terbuka bagi siapa saja yang memiliki kapasitas, integritas, dan kemauan melayani.
Saya ingin kehadiran saya menjadi bukti bahwa perempuan tidak hanya bisa bicara tentang dapur dan keluarga, tapi juga mampu memimpin daerah, menyusun anggaran, dan menentukan arah pembangunan,” ujar Ayu dalam salah satu wawancara publik.
Dalam berbagai forum, Ayu kerap menyoroti bagaimana kebijakan publik sering melupakan kebutuhan nyata perempuan dan anak-anak. Karena itu, ia mendorong penguatan program perlindungan sosial bagi ibu rumah tangga, pemberdayaan ekonomi perempuan, penguatan peran perempuan desa, serta layanan kesehatan dan pendidikan yang ramah anak.
Kepemimpinan Ayu juga mencerminkan komitmen terhadap kesetaraan gender—bukan dalam bentuk slogan, tetapi dalam langkah nyata: membuka ruang partisipasi perempuan dalam musrenbang, mendorong keterlibatan aktif perempuan dalam UMKM dan pertanian modern, serta memastikan pelayanan publik tidak diskriminatif terhadap kelompok marginal.
Ketika perempuan diberi ruang, bukan hanya kualitas hidup keluarga yang naik, tapi juga seluruh wajah daerah akan berubah. Perempuan itu agen stabilitas dan peradaban,” ungkap Ayu di sela kesibukan nya.
Dalam struktur birokrasi dan politik, perempuan sering kali diposisikan sebagai pelengkap atau hanya simbol representasi. Ayu melawan stigma itu. Ia hadir bukan hanya sebagai wajah baru dalam politik lokal, tapi sebagai pelaku perubahan.
Dengan gaya komunikasi yang empatik dan pendekatan yang humanis, Ayu berhasil menciptakan suasana pemerintahan yang lebih terbuka, ramah, dan dekat dengan rakyat—khususnya kelompok yang selama ini terpinggirkan.
Ia pun tidak segan memberikan perhatian khusus pada isu-isu yang selama ini dianggap tabu, seperti kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan anak, dan ketimpangan ekonomi berbasis gender. Ia percaya bahwa pemimpin daerah harus memiliki keberanian moral untuk menyentuh masalah-masalah akar rumput yang selama ini dibiarkan membusuk dalam diam.
Sebagai seorang ibu dari tiga anak, Ayu juga membawa perspektif keluarga dalam setiap kebijakan. Baginya, pembangunan daerah tidak bisa dilepaskan dari pembangunan karakter dan keharmonisan keluarga. Dari rumah, katanya, lahir generasi yang jujur, toleran, dan produktif.
Oleh karena itu, ia mendorong sinergi antar OPD untuk menghadirkan program pembangunan berbasis keluarga: rumah sehat, posyandu digital, kampung ramah perempuan dan anak, serta insentif bagi ibu pekerja informal.
Ayu Asalasiyah menjadi simbol baru bagi para perempuan muda di Way Kanan dan Lampung pada umumnya. Ia membuktikan bahwa perempuan bisa melampaui batasan budaya dan stereotip yang selama ini mengurung potensi mereka.
Dengan gaya kepemimpinan kolaboratif dan pendekatan “dari bawah ke atas”, Ayu membuka ruang harapan: bahwa kepemimpinan yang baik tidak mengenal jenis kelamin, hanya membutuhkan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan keberanian untuk mendengar serta bertindak.
Way Kanan bukan hanya sedang menyusun rencana pembangunan—tetapi sedang menulis ulang narasi tentang peran perempuan dalam panggung utama demokrasi lokal. Dan di pusat panggung itu, berdirilah Ayu Asalasiyah: seorang ibu, seorang pemimpin, dan seorang pelayan masyarakat, yang terus mengabdi tanpa henti dan melayani sepenuh hati.












