Seminar Kebudayaan ‘INERTIA’ di Kota Metro

Kota Metro,-Hujan Hijau Dance Lab bersama Dewan Kesenian Metro (DKM) dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro menyelenggarakan Seminar Kebudayaan di Bidang Tari yang mengkolaborasikan unsur seni, sains, dan teknologi. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan yang didukung oleh Balai Pemajuan Kebudayaan Wilayah VII Kementerian Kebudayaan RI bagi dukungan perseorangan.

Seminar budaya ini merupakan rangkaian dari program pementasan dan bedah karya tari bertajuk INERTIA, yang digagas oleh Kiki Rahmatika. Inertia bertujuan meningkatkan kreativitas serta kesadaran generasi muda mengenai pentingnya budaya lokal melalui pendekatan kolaboratif antara seni tari, sains, dan teknologi.

Program Inertia menekankan bagaimana budaya lokal dapat dipadukan dengan cara pandang ilmiah dan pemanfaatan teknologi modern, sehingga dapat melahirkan karya tari yang inovatif. Selain itu, kegiatan ini dirancang untuk mendorong kemampuan berpikir kritis, analitis, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun kemampuan komunikasi peserta.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu, 30 November 2025, di Gedung Nuwo Budayo Metro ini diikuti oleh beragam peserta, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, akademisi, seniman, hingga masyarakat umum. Antusiasme peserta tampak dari keterlibatan aktif mereka dalam sesi diskusi, demonstrasi teknologi tari, hingga sesi tanya jawab.

Ketua Dewan Kesenian Metro, Utjok menyampaikan bahwa integrasi seni dan teknologi adalah upaya penting untuk memperluas cakrawala kesenian di Kota Metro. “Kita tidak boleh stagnan. Seni harus adaptif terhadap perkembangan zaman, dan Inertia adalah salah satu contoh nyata bagaimana tradisi bisa bergerak maju,” ujarnya.

Dedi Hasmara perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro menambahkan bahwa pihaknya akan terus mendukung kegiatan yang membuka ruang inovasi bagi generasi muda. “Melalui kegiatan seperti ini, kita menanamkan nilai budaya sekaligus mengembangkan kecakapan abad 21,” katanya.

Hujan Hijau Dance Lab menghadirkan berbagai sesi interaktif, mulai dari penggunaan sensor gerak, penelitian tubuh penari, hingga eksplorasi visual berbasis teknologi. Pendekatan ini memperkenalkan kepada peserta bahwa tari tidak hanya seni pertunjukan, tetapi juga ruang riset yang bisa dikaji dan dikembangkan.

Seminar ditutup dengan sesi refleksi dan diskusi terbuka mengenai arah masa depan pendidikan dan praktik tari di era digital. Seluruh peserta sepakat bahwa kolaborasi antara seni, sains, dan teknologi merupakan langkah strategis untuk menjaga relevansi budaya lokal sekaligus menciptakan ruang kreasi yang lebih luas bagi generasi masa depan.

( Red / Dha )

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *