LampungSelatan — Ketidakjelasan nasib ratusan pekerja yang bertugas di ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (Bakter) mendapat perhatian serius dari Dewan Anak Adat Lampung Selatan (DAALS).
Wakil Ketua DAALS, Yun Haidir IB, meminta PT.BTB selaku pengelola jalan tol memberikan kepastian terhadap para pekerja yang selama ini telah mengabdikan diri dalam mendukung operasional ruas tol tersebut.
Menurut Yun Haidir, pekerja harus mendapatkan perhatian karena sebagian besar merupakan warga lokal yang tinggal di sekitar ruas tol dan menggantungkan kebutuhan hidup keluarganya dari pekerjaan tersebut.
“Kami meminta pihak pengelola Tol Bakauheni–Terbanggi Besar untuk lebih memperhatikan nasib pekerja lokal yang selama ini telah bekerja dan memiliki pengalaman. Jangan sampai mereka yang sudah bertahun-tahun mengabdi justru kehilangan pekerjaan tanpa ada nya kepastian yang jelas,” ujar Yun Haidir, Jumat (5/6/2026)
Ia menilai keberadaan para pekerja lokal telah memberikan kontribusi penting dalam mendukung pelayanan di jalan tol, mulai dari sektor keamanan, kebersihan hingga pelayanan lainnya.
Menurutnya, kepastian kerja bagi para pekerja bukan hanya menyangkut hubungan kerja semata, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi ratusan keluarga yang ada di lampung khususnya Lampung Selatan.
“Kami berharap para pekerja tetap diberikan kesempatan untuk melanjutkan pekerjaannya dan wajib.karena mereka memiliki pengalaman, memahami kondisi lapangan, dan selama ini turut serta menjaga pelayanan di ruas tol tersebut,” katanya.
Yun Haidir juga menegaskan bahwa DAALS siap berada di barisan depan untuk memperjuangkan hak-hak pekerja lokal apabila tidak ada kejelasan dari pihak terkait.
Bahkan, pihaknya mengaku siap menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk dukungan terhadap para pekerja yang saat ini masih diliputi ketidakpastian.
“Jika hak-hak pekerja lokal diabaikan dan tidak ada kepastian yang jelas terkait nasib mereka, maka kami siap turun ke jalan. Dewan Anak Adat Lampung Selatan siap menggelar aksi demonstrasi untuk memperjuangkan hak-hak pekerja lokal yang selama ini telah mengabdi di Tol Bakauheni–Terbanggi Besar,” tegas Yun Haidir.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan untuk menciptakan konflik, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat Lampung yang menggantungkan hidup dari pekerjaan di lingkungan jalan tol.
“Kami ingin ada keadilan bagi masyarakat lokal. Jangan sampai mereka yang selama ini bekerja dan berkontribusi justru menjadi pihak yang paling dirugikan. Jika memang diperlukan, kami siap mengerahkan massa untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka dan sesuai aturan yang berlaku,” lanjutnya.
Sementara itu, salah seorang pekerja pelayanan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku hingga kini masih menunggu kepastian terkait kelanjutan kontrak kerja yang akan segera berakhir.
“Kami khawatir karena nasib kami saat ini belum ada kejelasan dan belum ada kontrak baru. Harapan kami pekerja lokal yang merupakan warga sekitar tol ini bisa terus bekerja dan tetap dipertahankan,” ujarnya.
Ia mengatakan sebagian besar pekerja saat ini merupakan masyarakat yang tinggal di sekitar ruas tol dan sangat bergantung pada pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Hingga saat ini, para pekerja masih menunggu kepastian terkait keberlanjutan kontrak kerja mereka. Kondisi tersebut memunculkan keresahan karena masa kontrak yang ada dikabarkan akan segera berakhir dalam waktu dekat.
DAALS berharap pihak PT.BTB selaku pengelola jalan tol segera memberikan penjelasan dan kepastian agar para pekerja tidak terus berada dalam ketidakpastian yang berpotensi menimbulkan konflik dan gejolak sosial di tengah masyarakat.












