Selamat Jalan Sang Kreator: Mengenang Tangan Dingin Syamsul Bahri Nasution

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 180; runfunc: 0; algolist: 0; multi-frame: 1; brp_mask:0; brp_del_th:0.0000,0.0000; brp_del_sen:0.0000,0.0000; motionR: 1; delta:1; bokeh:1; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2621440;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 118.977844;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: weather?null, icon:null, weatherInfo:100;temperature: 34;zeissColor: bright;

Tahun 2017 adalah gerbang pertama saya memasuki dunia jurnalistik video. Saat itu, saya diperkenalkan pada dunia penyiaran di Lampung TV, sebuah institusi yang dikomandoi oleh Syamsul Bahri Nasution. Beliau bukan sekadar pemimpin redaksi, melainkan jurnalis senior yang seluruh hidupnya telah menyatu dengan tinta dan napas pers.

Melalui tangan dinginnya, saya ditempa. Beliau mengajarkan bahwa berita bukan sekadar tumpukan kata, melainkan narasi yang harus tertata rapi. Ia melatih kami cara berhadapan dengan narasumber, menggali informasi hingga ke akarnya, dan yang terpenting: menjadi jurnalis yang memegang teguh etika.
Hampir sembilan tahun saya bernaung di bawah arahan beliau. Belajar bahwa berita yang baik adalah yang mampu membuat masyarakat terbelalak melalui judul yang menggigit, namun tetap berdiri teguh di atas kaidah jurnalistik yang kaku.

Namun, Minggu malam, 15 Oktober 2026, segalanya berubah. Kabar duka itu datang bagaikan petir di siang bolong. Sang mentor, sang kreator, telah dipanggil oleh Sang Kuasa secara tiba-tiba di RS Urip Sumoharjo, Bandar Lampung.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.
Tidak akan ada lagi proyeksi berita tajam yang lahir dari pemikirannya. Tidak ada lagi perintah tegas untuk mengejar informasi yang tersembunyi. Ruang redaksi terasa lebih sunyi tanpa komando darinya.

Meski raganya telah tiada, filosofi jurnalisme yang beliau tanamkan tidak akan ikut terkubur. Bagi saya dan mungkin banyak jurnalis lain yang pernah “disentuh” oleh didikannya, Syamsul Bahri Nasution adalah standar tentang bagaimana sebuah berita seharusnya diproduksi: berani, cerdas, dan bermartabat.
Selamat jalan, Bang Syamsul. Sang kreator dan pencipta. Semoga almarhum husnul khotimah, diterima segala amal ibadahnya, dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Ilmu yang kau ajarkan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir dalam setiap berita yang saya tulis. (Gelly Anthoniyos) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *