Di Tengah Ombak Ego, Rakyat Metro Tetap Harus Berlayar

Di Kota Metro, hubungan pimpinan daerah kadang bagaikan ombak di lautan: naik turun, bergelora, dan sesekali menumpahkan percikan drama yang terlihat dari jauh. Walikota dan Wakil Walikota, meski duduk berdampingan, terkadang tampak seperti dua kapal yang berlayar di perairan sama, namun arusnya saling bertabrakan.

Drama ini kian nyata ketika istri Wakil Walikota memutuskan mundur dari jabatan di Dekranasda Kota Metro. Alasan yang disampaikan adalah karena merasa tidak dilibatkan dalam perjalanan kegiatan dan pengambilan keputusan. Mundurnya sosok penting dalam organisasi yang seharusnya mendukung pengembangan kerajinan lokal ini menegaskan bahwa gelombang di meja kerja bukan sekadar metafora—konsekuensinya bisa dirasakan dalam dinamika organisasi dan proyek pembangunan kreatif.

Namun di tengah semua gelombang ego ini, rakyat tetap menunggu hasil nyata. Kota Metro membutuhkan kepemimpinan yang mampu menegakkan arah kebijakan yang jelas, memastikan proyek strategis berjalan tepat waktu, dan menyalurkan manfaat pembangunan secara langsung bagi masyarakat. Infrastruktur harus berfungsi, pelayanan publik harus lancar, dan program ekonomi kreatif seperti kerajinan lokal harus tetap mendapat perhatian.

Pasang surut hubungan pimpinan tidak boleh mengorbankan kepentingan rakyat. Komunikasi terbuka, koordinasi tegas, dan fokus pada tujuan pembangunan adalah kunci agar drama internal tidak menghambat kemajuan Kota Metro. Ombak ego boleh bergelora, jabatan mundur boleh terjadi, tapi arah kebijakan harus tegas, hasil pembangunan harus nyata, dan rakyat Metro tidak boleh menjadi korban dari gelombang di atas meja kerja.

Oleh :

Yudha Saputra

( Lampung Sai.Com )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *