WCS Gelar Pelatihan Mitigasi Konflik Manusia-gajah

0
270

WCS Gelar Pelatihan Mitigasi Konflik Manusia-gajah

id
pelatihan penanganan konflik gajah dengan manusia

WCS Gelar Pelatihan Mitigasi Konflik Manusia-gajah   Pelatihan mitigasi konflik manusia dan gajah oleh Wildlife Conservation Society (WCS) bersama Komunitas Masyarakat Pinggir Hutan Way Kambas di Desa Labuhanratu VI Kecamatan Labuhanratu Kabupaten Lampung Timur, Senin (30/1). ( Foto: WCS Lampung Timur/Sugiyo)

…Kami ingin menggali informasi langsung dari masyarakat, mengingat dari permasalahan yang diungkapkan langsung oleh masyarakat melalui kegiatan ini akan ditemukan sebuah model penanganan konflik gajah dan manusia yang sesuai, kata Sugiyo…

Lampung Timur (ANTARA Lampung) – Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program bersama Komunitas Masyarakat Pinggir Hutan Way Kambas menggelar pelatihan mitigasi konflik manusia dan gajah, mengingat di sekitar hutan Taman Nasional Way Kambas di Kabupaten Lampung Timur sering terjadi konflik manusia dengan gajah.
Sugiyo, Koordinator Lapangan WCS-IP, di Lampung Timur, Senin, mengatakan pelatihan mitigasi konflik manusia dan gajah itu digelar di Desa Labuhanratu VI, Kecamatan Labuhanratu dan diikuti 26 peserta yaitu warga dari sejumlah desa di pinggiran hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dan 6 staf dari Balai TNWK.
Pelatihan itu juga melibatkan sejumlah tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lampung Timur.
Dia menjelaskan, pelatihan itu sekaligus merupakan ajang silaturahmi antarmasyarakat, selain sebagai sarana mencari model penanganan konflik gajah-manusia di kawasan sekitar TNWK yang sesuai dengan kondisi wilayah masyarakatnya.
"Kami ingin menggali informasi langsung dari masyarakat, mengingat dari permasalahan yang diungkapkan langsung oleh masyarakat melalui kegiatan ini akan ditemukan sebuah model penanganan konflik gajah dan manusia yang sesuai," kata dia lagi.
Menurutnya, melalui pelatihan yang diberikan itu juga diharapkan masyarakat bisa mandiri menangani konflik yang dialami selama ini.
Sugiyo menyebutkan sejumlah cara yang biasa dilakukan masyarakat dalam menangani konflik gajah itu, di antaranya dengan membangun penghalang lintasan gajah. Kemudian melakukan penjagaan oleh masyarakat dengan dilengkapi peralatan seperti lampu tembak dan bunyi-bunyian seperti petasan, katanya lagi.
Dia menyatakan konflik antara masyarakat dengan gajah liar dari hutan TNWK itu merupakan masalah serius yang terjadi di desa-desa dekat kawasan hutan TNWK.
Konflik antara manusia dengan gajah liar di sekitar hutan TNWK itu, sudah terjadi sejak tahun 1980-an, dan akibat konflik yang terjadi ini sering menimbulkan kerugian ekonomi di pihak masyarakat, bahkan sampai menelan korban jiwa manusia maupun gajah liar yang terbunuh.
Karena itu, kata Sugiyo pula, diperlukan penanganan terpadu oleh semua pihak untuk meminimalkan konflik tersebut selanjutnya. (Ant)

Editor: Samino Nugroho

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Tweets by @antaralampung

LEAVE A REPLY