Thanos Hadir Berwujud Covid19, Mampukah Para Evengers Mengusirnya

0
734

Jakarta, Lampungsai.com – Rabu,12 September 2019, saat hadir dan berkesempatan menyampaikan pidato pada World Economic Forum on ASEAN di National Convention Center, Hanoi, Vietnam

Jokowi sepertinya begitu terinspirasi dengan film besutan Marvel Studio dan dalam pidatonya Presiden Joko Widodo, menyebut kondisi perekonomian dunia menuju ‘perang tak terbatas’ atau ‘infinity war’.

Avenger Infinity War adalah film super hero yang diangakat dari tim super hero Marvel Comics The Evengers di produksi oleh Marvel Studio yang merupakan sekuel dari the Evengers 2012 dan Avenger Age Of Ultron.

Pidato yang cukup eksentrik namun memukau dari mantan Gubernur DKI Jakarta yang terpilih kembali untuk kedua kalinya sebagai presiden RI pada Pilpres 2019 lalu.

Berikut kutipan pidato Jokowi pada Rabu 12 September 2019 di Hanoi Vietnam. “Apa yang sedang terjadi dalam perekonomian dunia hari ini adalah kita sedang menuju perang tanpa batas [Infinity War]. Kita belum pernah menghadapi perang dagang dengan ekskalasi seperti saat ini sejak Great Depression di tahun 1930-an.”

Namun, yakinlah saya dan rekan Avengers saya siap menghalangi Thanos yang ingin menghapus sebagian populasi dunia, tegas Jokowi.

Thanos ingin menghabisi separuh populasi sehingga sisanya yang bertahan dapat menikmati sumber daya per kapita sebesar dua kali lipatnya. Namun, ada kesalahan mendasar dari asumsi ini, ujar Jokowi

Thanos yakin sumber daya di planet bumi terbatas. Faktanya adalah sumber daya alam yang tersedia bagi umat manusia bukannya terbatas, namun tidak terbatas, kata Jokowi menjelaskan alur cerita yg pasti juga sudah disaksikan dan dipahami oleh para undangan kehormatan pun para kepala negara yang hadir saat itu.

Lanjut Presiden Jokowi menyampaikan, Perkembangan teknologi telah menghasilkan peningkatan efisiensi, memberi kita kemampuan untuk memperbanyak sumber daya kita lebih banyak dari sebelumnya.

Penelitian ilmiah membuktikan, ekonomi kita sekarang lebih ‘ringan’ dalam hal berat fisik dan volume fisik. Hanya dalam 12 tahun terakhir, total berat dan volume televisi, kamera, pemutar music, buku, surat kabar, dan majalah telah tergantikan oleh ringannya ponsel pintar dan tablet.

Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang berat telah tergantikan oleh panel surya dan kincir angin yang ringan.

Kedua, saat perekonomian kita terus berkembang, ekonomi tidak lagi didorong oleh sumber daya alam yang terbatas, melainkan oleh sumber daya manusia yang tidak terbatas.

Dalam pidatonya Jokowi menyebutkan, Generasi muda Indonesia menjadi motor ledakan e-commerce dan ekonomi digital yang transformasional. Saat ini, kami memiliki empat unicorn atau startup bervaluasi di atas US$1 miliar di Indonesia dan tentu saja sumber daya manusia sekarang mendorong revolusi industri 4.0.

“Saat ini, Indonesia telah memiliki empat ‘Unicorn’ atau perusahaan start up dengan nilai miliaran dolar, sama dengan jumlah ‘Unicorn’ di gabungan 28 negara di Uni Eropa,” ucap mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Pada 4 April lalu kami telah meluncurkan program pemerintah Revolusi Industri 4.0 yang diberi nama “Making Indonesia 4.0”.

Pertama, saya percaya bahwa Revolusi Industri 4.0 akan menciptakan bukannya menghilangkan banyak lapangan kerja tidak hanya dalam jangka panjang melainkan juga dalam jangka pendek.

Kedua, saya percaya Revolusi Industri 4.0 tidak akan meningkatkan kesenjangan namun justru menurunkannya karena salah satu aspek penting dari Revolusi Industri 4.0 adalah penurunan biaya secara dramatis bagi barang dan jasa sehingga menyebabkan produk tersebut lebih murah dan mudah dijangkau bagi kalangan berpendapatan rendah.

Ketiga, saya percaya ASEAN termasuk Indonesia akan menjadi yang terdepan dalam Revolusi Industri 4.0.

Namun, kita harus mencegah perang dagang ini berkembang menjadi perang tanpa batas.

Anda mungkin bertanya-tanya siapa Thanos? Hadirin sekalian, Thanos bukanlah seorang individu. Maaf sudah membuat Anda kecewa. Thanos ada di dalam diri kita semua. Thanos adalah paham yang salah bahwa untuk berhasil, orang lain harus menyerah. Ia adalah persepsi yang salah bahwa keberhasilan sekelompok orang adalah kegagalan bagi yang lainnya.

Sehingga, Infinity War bukan hanya tentang perang dagang kita tetapi tentang setiap dari diri kita mempelajari ulang sejarah bahwa dengan kreativitas, energi, kolaborasi, dan kerja sama umat manusia akan menikmati sumber daya yang melimpah dan tidak terbatas, bukannya perang tak berkesudahan.

Begitu terinspirasi Presiden Jokowi oleh karya Marvel Studio melalui sekuel Avenger Infinity War. Dan akhirnya apa yang disebutkan oleh Presiden ke 7 Republik Indonesia ini benar-benar terwujud.

Thanos hadir dalam bentuk yang lain. Thanos muncul dalam wujud CoronaVirus (Covid19) yang diketahui berasal dari Wuhan China dan kemudian menjadi Pandemi Global.

Dalam pidatonya Jokowi mengatakan “yakinlah saya dan rekan Avengers saya siap menghalangi Thanos yang ingin menghapus sebagian populasi dunia”.

Thanos dalam bentuk CoronaVirus (Covid19) hingga saat ini terkonfrimasi pasien positif sejumlah 4.245.003 dan telah merenggut nyawa 286.653, untuk seluruh dunia. Bukankah itu cukup mengoyak populasi dunia.

Thanos dengan wujud CoronaVirus hadir di Indonesia diumumkan pada tanggal 2 Maret 2020 dan hingga saat ini (12/5/2020) kasus positif 14.749, sembuh 3.063, dan pasien meninggal 1.007 bukankah itu sudah mencabik-cabik populasi negeri kita?

Presiden Jokowi  juga menyampaikan dalam Pidato Evenger di Hanoi bahwa Indonesia telah memiliki empat ‘Unicorn’ atau perusahaan startUp dengan nilai miliaran dolar, sama dengan jumlah ‘Unicorn’ di gabungan 28 negara di Uni Eropa,” ini sangat fantastis.

Namun dengan kehadiran Thanos CoronaVirus, ternyata motor pengerak dan Backbone dari salah satu StarUp Unicorn yang pastinya masuk dalam hitungan dan angka-angka yg disampaikan oleh presiden Jokowi saat memberikan pidato di Hanoi tersebut, pada akhirnya harus mendapatkan suntikan bantuan dari pemerintah, merekalah para OJOL.

Jangan salah dipahami jika memang para OJOL ini berdasarkan data mereka memang pantas dan tergolong dalam kelompok masyarakat yang layak mendapatkan bantuan  pemerintah itupun tidak masalah dan tidak salah.

Tapi jika kita bicara “kesenjangan” terkait Revolusi Industri 4.0, disini justru jelas terlihat sebuah kesenjangan yang akhirnya mematahkan pidato evenger Jokowi.

Sebagai platform StarUp Unicorn para pemilik dan pemegang saham tentunya tidak mengalami gangguan yang begitu besar dari kehadiran Thanos dalam bentuk CoronaVirus (Covid19) karena nilai Valuasi mereka miliaran dolar namun bagi para OJOL mereka sangatlah terdampak, dan jelas para OJOL merupakan Backbone dari salah satu platform Unicorn tersebut.

Dalam pidato Avenger Jokowi di Hanoi untuk 4 Unicorn yang ada di Indonesia itu nilai valuasinya mencapai miliaran dolar, dengan kata lain besarnya valuasi 4 Unicorn di indonesia itu baru akan sama jika jumlah ‘Unicorn-Unicorn’ atau perusahaan start up di 28 negara di Uni Eropa di gabungkan.

Sepertinya ada yang kurang yah. Jika nalar kita, kita gunakan dengan baik. Kenapa para OJOL ini kemudian harus menjadi tanggung jawab pemerintah sementara StarUp yang menjadikan mereka Backbone memiliki valuasi yang tinggi bahkan mampu melakukan ekspansi ke berbagai negara Asia tenggara lainnya.

Kenapa StarUp Unicorn itu tak diwajibkan memberikan insentif lebih dari sebelumnya untuk menopang kehidupan para OJOL yg telah membuat mereka besar hingga kemudian mampu mengembangkan Business Model mereka. Bukankah ini sebuah kesenjangan?

Satu hal yang pasti Jokowi memiliki kemampuan membaca situasi kedepan namun dan terbukti Thanos akhirnya benar benar hadir dan mencabik-cabik populasi dunia

Sayangnya kehadiran Thanos dalam bentuk CoronaVirus ini kemudian menggerus dan membuyarkan mimpi indah revolusi industri 4.0. Pun harus diakui ada kesenjangan disana. diantara Backbone dan para Pengembang juga Founder dan Pemilik Saham.

Kita menunggu dengan sabar #DirumahAja untuk sebuah kalimat yang disampaikan oleh Presiden kita bahwa “beliau dan rekan Avengers nya siap menghalangi Thanos yang ingin menghapus sebagian populasi dunia”.

Dan sambil #DirumahAja #KarantinaMandiri kita menunggu kabar dari “Making Indonesia 4.0”. Yang bulan April 2020 lalu merupakan setahun pertama sejak diluncurkan pada 4 April 2019.

Kami menunggu kombinasi kehebatan 2 calon presiden yang kemudian telah menjadi satu kekuatan bersama sebagai Avenger, untuk segera hadir memberangus Thanos dalam bentuk CoronaVirus (Covid19).

Karena bukan rahasia lagi masyarakat semakin sulit untuk hidup dalam kondisi seperti saat ini, Kesuksesan suatu negara dilihat dari pertumbuhan ekonominya.

Sementara kesuksesan pemerintahan suatu negara dillihat dari kemampuannya meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya.

Pertumbuhan ekonomi ini penting untuk diperhatikan bahkan terus ditingkatkan karena menjadi indikator keberhasilan kinerja pemerintah dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi kesejahtera hidup rakyatnya.

Bahasa awamnya nilai pertumbuhan ekonomi sebuah negara itu dilihat dari pertumbuhan ekonomi rakyatnya. Jangan sampai ada rakyat yang harus merebus batu, karena evenger tak kunjung hadir kesulitan atur waktu.

Salam Avenger #DirumahAja

Rival Achmad Labbaika Alhasni

LEAVE A REPLY