Sekilas Mengenal Suku Ogan Sumatera Selatan Kemiripan Bahasa Melayu Deli Dan Malaysia

0
616

Redaksi Lampungsai.com

Mengenal Suku Ogan (Sumatera Selatan) dalam Sejarah

Suku Ogan adalah salah satu dan dua suku bangsa yang mayoritas bermukim di Provinsi Sumatera Selatan. Masyarakat suku Ogan tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU)  dan juga terdapat di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.

Mereka menghuni wilayah sepanjang aliran Sungai Ogan dari Baturaja sampai ke Selapan. Suku Ogan menggunakan Bahasa Ogan sebagai bahasa sehari-hari, yang memiliki kemiripan dengan bahasa Melayu Deli dan Melayu Malaysia, karena itu bahasa Ogan dimasukkan ke dalam kelompok rumpun bahasa Melayu. Menurut klasifikasi rumpun bangsa, suku Ogan termasuk ke dalam rumpun deutro-malayan atau melayu muda.

Asal – Usul Suku Ogan

Nenek moyang dari masyarakat Suku Ogan berasal dari masyarakat yang menghuni Gunung Dempo, yang terletak di dataran tinggi Basemah. Berdasarkan peneemuan arkeologis, telah ada masyarakat yang hidup di sekitar dataran tinggi Basemah, sejak 4.500 tahun yang lalu (2.500 SM). (wikipedia.org)

Mereka yang berasal dari dataran tinggi Basemah akhirnya mulai turun ke bawah untuk kemudian menyelusuri Sungai Ogan, dengan tujuan mencari lahan pemukiman yang baru. Keberadaan mereka di pinggiran Sungai Ogan, pada akhirnya berinteraksi dengan masyarakat yang telah ada sebelumnya, untuk kemudian membentuk satu kebudayaan tersendiri.

Pemukiman masyarakat di sekitar sepanjang Sungai Ogan sendiri sebenarnya sudah ada sebelum kedatangan nenek moyang dari suku Ogan.

Temuan arkeologis di Gua Harimau, salah satu peninggalan zaman purba di wilayah Sumatera Selatan, menunjukkan bahwa peradaban disekitar Sungai Ogan sudah berumur puluhan ribu tahun, bahkan diperkirakan telah ada sejak masa zaman es.

Penghuni gua-gua purba ini, awalnya merupakan komunitas Ras Australomelanesid. Lalu setelah kedatangan Ras Mongoloid, kedua ras ini menyatu dalam satu kelompok masyarakat yang baru.

Sumber lain mengatakan bahwa nenek moyang dari suku Ogan ada yang berasal dari Lampung, Palembang, dan Tanah Jawa, diantaranya yang tercatat adalah:

  • Keluarga Sanghyang Sakti Nyata; berdasarkan catatan dari masyarakat Lampung Pesisir Way Lima, diceritakan beliau memiliki 7 orang anak, yang kemudian menjadi leluhur bagi Suku Ogan, Rejang, Semende, Pasemah, Komering dan Lampung.
  • Pengikut Penguasa Palembang yang pernah hijrah ke Ogan Ilir, antara lain:
    • Pangeran Sido ing Rajek di Desa Saka Tiga (Inderalaya) tahun 1659
    • Sultan Mahmud Badaruddin (II) Pangeran Ratu di Desa Tanjung Lubuk tahun 1821
    • Sultan Ahmad Najamuddin (IV) Prabu Anom di Hulu Sungai Ogan tahun 1824-1825.

Pembagian

Berdasarkan hunian masyarakat sepanjang sungai Ogan, suku Ogan dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu suku Ogan Iliran dan Ogan Uluan.

Suku Ogan Iliran : Suku Ogan ini menghuni wilayah sepanjang aliran sungai Ogan bagian hilir. Terdapat dua sub-suku dalam suku Ogan Iliran yaitu:

  • Suku Pegagan: Masyarakat suku ini banyak mendiami daerah Marga Pegagan Ilir Suku I, Marga Pegagan Ilir Suku II, dan Marga Pegagan Ilir Suku III. Suku Pegagan juga terbagi menjadi dua sub-suku lagi yaitu Pegagan Ulu dan Pegagan Ilir.
  • Suku Penesak: Masyarakat suku ini tersebar di Kecamatan Tanjung Batu dan Padaraman serta sebagian Kecamatan Lubuk Keliat.

Suku Ogan Uluan : Suku Ogan ini menghuni wilayah sepanjang aliran sungai Ogan bagian hulu hingga aliran tengah. Terdapat dua sub-suku dalam suku Ogan Uluan yaitu:

  • Suku Rambang Senulingku: Suku ini banyak berdiam di Marga Muara Kuang, Marga Lubuk Keliat, Marga Rantau Alai, Marga Rambang Suku IV, Marga Tembangan Kelekar, Marga Lubai Suku I, Marga Parit, Marga Lembak, Marga Gelumbang,dan Marga Ketamulia.
  • Suku Ogan Hulu: Suku ini mendiami daerah Kecamatan Ulu Ogan, Pengandonan, Baturaja dan Lubuk Batang (Kabupaten Ogan Komering Ulu) serta Muara Kuang (Kabupaten Ogan Ilir).

Selain suku-suku di atas, masih banyak lagi suku-suku yang merupakan keturunan dari suku Ogan yang ada hingga saat ini. Sebagian besar mata pencaharian mereka adalah bertani, karenanya hasil pertanian adalah makanan pokok utama bagi mereka.

Budaya

Mayoritas masyarakat suku Ogan adalah pemeluk Agama Islam yang taat. Sehingga hampir seluruh Budaya dan Adat – Istiadat mereka dipengaruhi oleh Budaya Islam dan Melayu. Hal ini terlihat dari beberapa tradisi yang telah mereka miliki sejak lama.

Pernikahan

Tercatat ada beberapa tradisi unik dari setiap masyarakat Suku Ogan di wilayah manapun mengenai pernikahan. Beberapa diantaranya seperti Hajat Batin, Ngukus, Pengadangan, Ningkuk, dan lain-lain.

Hajat Batin dan Ngukus merupakan perayaan yang dilakukan oleh masyarakat jelang pernikahan.

Hajat Batin adalah acara bagi laki-laki dalam suatu kampung yang utamanya bapak-bapak untuk melakukan kegiatan penunjang jelang upacara pernikahan.

Kegiatan yang dilakukan adalah bahu membahu mendirikan tenda dilokasi acara. Ada dua jenis tenda yang mereka dirikan. Tenda pertama adalah tenda utama untuk gelaran resepsi atau sedekah. Tenda kedua adalah tenda yang kelak akan dipakai oleh para rebai (hebai/ibu ibu) dalam aktivitas Ngukus.

Ngukus sendiri adalah acara bagi perempuan, utamanya bagi ibu-ibu, untuk menyiapkan bahan makanan untuk keluarga besan dan para tetamu yang kelak hadir dalam acara sedekah atau resepsi.

Hingga saat ini tradisi ini masih sering ditemukan di beberapa wilayah kediaman suku Ogan, yang tujuannya adalah menjalin erat silaturrahmi sesama warga masyarakat.

Pengadangan adalah perayaan unik menjelang akad nikah dilangsungkan, yang cara melakukannya adalah dengan berusaha menghalang-halangi pengantin pria dengan menggunakan sebuah selendang panjang. Agar bisa melewati selendang tersebut, mempelai pria beserta rombongannya harus memenuhi apa saja permintaan dari mempelai wanita.

Selain sebagi bentuk penghormatan, pengadangan juga dilaksanakan untuk mempererat silaturahmi antar dua keluarga yang akan disatukan dalam suatu pernikahan.

Dalam prosesi pengadangan, pihak mempelai pria akan diiringi dengan tetabuhan rebana, dan tidak lupa membawa berbagai barang seserahan yang diinginkan oleh mempelai wanita.

Pada saat pengadangan dibutuhkan seorang juru bicara yang berasal dari pemangku adat yang bertugas untuk meyakinkan pihak mempelai wanita. Setelah persetujuan disepakati kedua belah pihak, kemudian dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Setelah akad nikah diucapkan, dan kedua mempelai telah sah secara adat dan hukum negara, pesta pernikahan kemudian dimeriahkan dengan tarian penghibur pengantin.

Sementara Ningkuk adalah perayaan menjelang akad pernikahan lainnya, yang merupakan salah satu kebudayaan yang masih ada khususnya di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu. Berbeda dengan Pengadangan, yang mengikuti dan melaksanakan acara Ningkuk adalah pemuda dan pemudi yang merupakan sahabat atau kerabat dari kedua mempelai pengantin.

Perbedaan lainnya adalah saat datang ke acara Ningkuk, pemuda harus menjemput dan meminta izin pada orang tua pemudi yang diajaknya ke acara Ningkuk. Setelah acara selesai, pemuda itu harus mengantarkan pulang kembali pemudi yang diajaknya ke acara Ningkuk tadi.

Pelaksanaan tradisi Ningkuk biasanya dimulai setelah acara resepsi pernikahan dilaksanakan. Tradisi ini awalnya dilakukan dengan dikumpulkannya pemuda dan pemudi yang memiliki hubungan dekat (dalam hal ini teman atau sahabat, bisa juga kerabat) dengan kedua mempelai. Setelah itu mereka dibagi menjadi dua kelompok yang terdiri atas kelompok pemuda dan kelompok pemudi.

Dalam pelaksanaannya, tradisi ini melibatkan kedua mempelai yang berperan sebagai raja dan ratu serta seorang moderator yang menjadi pemandu acara yang menjelaskan aturan Ningkuk tersebut sebelum dimulai. Dalam pelaksanaannya, tiap kelompok pemuda dan pemudi akan diberikan sarung, yang nantinya akan diberikan secara bergantian antar kelompok.

Pada saat prosesi tukar menukar sarung, sebagai penentu atau acuan waktu akan diputar sejumlah lagu, yang jumlahnya bisa satu atau lebih. Ketika kemudian lagu dimatikan, maka pemuda dan pemudi yang memperoleh sarung paling akhir akan diberikan hukuman oleh kedua mempelai.

Hukuman tersebut dapat berupa menyanyi, berjoget, pantun, puisi, dan sebagainya. Pada saat acara akan memasuki bagian akhir, pemuda diperbolehkan untuk menyatakan perasaannya pada pemudi idamannya yang hadir pada ritual tersebut. Jika tidak dapat menyampaikannya secara langsung, pemuda tersebut dapat juga melakukannya dengan memberikan surat yang nantinya akan disampaikan oleh moderator.

Seiring perubahan zaman, tradisi pengadangan dalam pernikahan adat Suku Ogan sudah jarang dilakukan. Padahal banyak nilai luhur yang dapat diambil dari prosesi adat tersebut, seperti saling menghormati, mempererat tali silaturahmi, dan menghargai perempuan seperti menghargai ibu kita sendiri.

Selain pernikahan, aspek lain dari budaya Suku Ogan adalah sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, sistem peralatan dan perlengkapan, sistem kemasyarakatan, sistem ekonomi, bahasa, dan kesenian.

Dari bidang seni, terdapat beberapa seni tari asli dari suku Ogan, yaitu Tari Minur dan Tari Sabai.

Bahasa Ogan

Bahasa Ogan adalah bahasa yang dituturkan sebagian besar masyarakat yang terdapat di Kabupaten Ogan Komerin Ilir (OKI) (Tanjungraja, Inderalaya, Pemulutan, Muara Kuang, Kuang Anyar, Rantau Panjang, Muare Penimbung, Tanjung Batu, Payaraman, Talang Aur, Meranjat).

Dan Ogan Komering Ilir (Pampangan, Tulung Selapan, Mesuji, Pedamaran).

Ogan Komering Ulu (OKU) (Baturaja, Pengandonan, Ulu Ogan, Muara Jaya, Semidang Aji, Lubuk Batang, Peninjauan, Sinar Peninjauan, Lubuk Raja, Kedaton Peninjauan Raya).

Muara Enim (Rambang, Lubai, Segayam, Tambangan Kelekar).

Bahasa Ogan yang dituturkan oleh sebagian masyarakat yang tinggal di pesisir atau tepian Sungai Ogan. Sungai Ogan berasal dari beberapa aliran kecil mata air dari Bukit Nanti bersatu menjadi satu aliran besar Sungai Ogan, yang pada akhirnya bermuara di sungai Musi Palembang Provinsi Sumatra Selatan.

Bahasa Ogan yang digunakan oleh masyarakat di tepian sungai Ogan dikenal salah satu suku dari rumpun Melayu yaitu suku Ogan. Batasan Suku Ogan dikenal adanya istilah, Ulu Ogan (daerah Kelumpang), Ogan Ulu (daerah Kecamatan Pengandonan), Ogan Baturaja (Kota Baturaja), dan Ogan Ilir (daerah Lubuk Batang dan Muara Kuang).

Sangat banyak dusun kecil yang tersebar di sepanjang aliran sungai sebut saja seperti Muara Penimbung, Talang Aur, Air Itam, Sungai Pinang, Tanjung Raje dan lain-lain yang kesemua dusun ini memiliki bahasa dan logat bicara yang berbeda-beda.

Bagi orang yang telah mengenal bahasa Ogan, mereka akan mengatakan bahwa bahasa Ogan mirip bahasa orang Malaysia walau tidak sama persis. Contoh logatnya “Nak kemane?”, yang artinya “hendak ke mana?”.

Semakin ke hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) Ogan, maka logat bahasa Ogan Akan terdengar keras, makin ke hilir makin halus dan agak terdengar berlagu. Hal ini senada dengan filosofi “daerah hulu sungai Ogan, tepian sungai Ogan agak kecil arus airnya deras berbatu dan berbukit, sedangkan daerah hilir tepian sungai Ogan lebar dan arus air tenang tidak berbatu.”

Untuk daerah Ogan Ilir sebagian Bahasa Ogan yang digunakan menggunakan dialek e/e Jakarte, sebagian e/e Malaysia, ada juga Bahasa Ogan dialek o yang terdapat di Kecamatan Tanjung Batu dan Payaraman.

Sedangkan yang di Ogan Komering Ulu, hampir semua Bahasa Ogan yang digunakan memakai dialek e/e Malaysia, kecuali Kampung Suka Pindah, Kecamatan Kedaton Peninjauan Raya. Untuk wilayah Kabupaten Muara Enim Bahasa Ogan Rambang, Lubai, Segayam menggunakan dialek e/e Malaysia.

Berikut beberapa contohnya jika menggunakan Bahasa Ogan Ilir:

Kata “Rumah”, jika memakai cara baca Bahasa Ogan: «Humah»

Dan seperti {Dimana tempatnya?} «Dimana:Dimane» «Tempatnya:agokne» Jadi, dimane agokne?

Dan satu lagi Jika anda mendengar “Dak Tekinak/Tekelek”

Jika diartikan menggunakan bahasa Indonesia adalah: “Tidak kelihatan/terlihat”

Pemberian Gelar atau Julukan sama dengan Suku Komering serumpun, diberikan menurut kedudukannya di masyarakat :

  1. Kedudukan Bangsawan (bila dia laki-laki diberi gelar yakni DALOM untuk anak cucu tua);
  2. MANGKU untuk anak laki-laki di bawah DALOM;
  3. MENTERI untuk anak laki-laki di bawah MANGKU;
  4. PRABU untuk anak tua – cucung tua;
  5. RADEN untuk dibawah PRABU-adiknya;
  6. RATU untuk gelar dibawah RADEN;
  7. BUNGSU untuk anak paling akhir.

Pada dasarnya, Indonesia memiliki keragaman suku, ratusan lebih suku yang ada, salah satunya adalah Suku Ogan. Setiap suku memiliki karakteristik yang berbeda.

Bicara tentang sifat-sifat Suku yang ada di Indonesia, sifat orang Ogan memiliki sifat yang sangat khas dan kental.  Sifat orang Ogan adalah baik, ramah, tidak kasar, suka menolong, menerima orang baru.

Orang Ogan ganteng, makin hari semakin banyak laki-laki suku Ogan berperawakan ganteng dan tampan.  Wanita Ogan juga banyak yang cantik.

Karakter orang Ogan adalah Baik, penyayang, ramah, tidak kasar, mudah bergaul, suka menolong.
Jika ada menganggap orang Ogan itu jahat, itu tidak benar. Pada dasarnya semua suku di Indonesia sangatlah baik.

Ciri khas orang Ogan yang mau membantu sesama manusia, menjadi daya pikat bagi semua orang untuk menerima kehadiran orang Ogan dijadikan sebagai saudara di tengah-tengah masyarakat dan negara.

Prinsip orang Ogan adalah hidup mandiri dan saling membantu orang lain.
Orang Ogan boleh menikah dengan suku lain, asal kedua pasangan saling mencintai satu sama lain.

Merunut leluhur dan keturunan

Orang Ogan kental menjaga tradisi warisan nenek moyangnya dan keturunannya, tak begitu banyak di ketahui orang pada umumnya termasuk Khas Beladiri, masing-masingnya ada sesuai warisan, leluhur, keluarga dan sebagainya. Sebagaimana di kutip cerita di atas, Seni Beladiri Khas dikenal segelintir masyarakat dan tak mau terlihat umum.

Mungkin karena warisan leluhur dan nenek moyang orang Ogan yang dulu mendiami Gua Harimau yang kini menjadi tradisi warisan dan dianggap Khas Masyarakat Pulau Sumatera (Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Riau hingga Aceh) dan diketahui khas beladirinya Konon berbau kental dengan sifat harimau hingga ke pulau Kalimatan dan Malaysia dengan berbagai khas aliran.

Sangat wajar jika tersebar, sebab sejarah suku Ogan lahir atas sekumpulan orang pada masa lalu yang menghuni suatu daerah dan membentuk keturunan hingga sampai dengan saat ini dan memiliki ciri khas Melayu dan memiliki leluhur yang mendiami pedalaman rimba raya.

Demikian singkat mengenal Suku Ogan, mohon maaf atas semua kekurangan dalam penyajian isi konten cerita singkat ini. Penulis meyakini banyak kekurangan dalam penulisan ini, maka itu penulis haturkan maaf atas silaf, setidaknya dapat sedikit bermanfaat.

Wassalam..!!!

(Sumber dapat di browsing net dan lainnya)

LEAVE A REPLY