Perkembangan Lidik Perkara Gedung Disporapar Dan Flyfox, Kasat Reskrim Polresta Metro Bungkam

0
755
Gedung kantor baru, Disparpora Kota Metro./Red

Kota Metro, Lampungsai.com – Proses Penyelidikkan sugaan proyek pembangunan Gedung Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Metro, asal jadi, oleh tim Tipikor Polresta Metro sejak Maret 2019, hingga saat ini tidak jelas. Kasat Reskrim Polres setempat, AKP Gigih Andri Putranto, bungkam. Hindari wawancara jurnalis, AKP Gigih Andri Putranto berlibi sedang sibuk.

Untuk diketahui sebelumnya, muncul adanya dugaan proyek pembangunan gedung Disporapar senilai lebih kurang Rp600 Juta (Pondasi dan pemasangan Tiang) TA 2017. Berlanjut TA 2018 dikucurkan kembali oleh Pemkot setempat sebesar Rp2 Milliar.

Belum rampung pengkerjaan, fasilitas gedung belum memadai alias belum laik fungsi, Pemkot setempat merekomendasikan pihak Dikporapar segera menempatinya, sesuai intruksi Sekkota A.Nasir AT dan Kepala Dinas PU Irianto Marhasan, yang saat itu belum dilakukan serah terima pekerjaan antara rekanan dan Pemkot setempat, karena masih masa pemeliharaan rekanan.

Kondisi bangunan belum laik digunakan, hal itu terlihat di beberapa ruang, kamar mandi dan lantai serta gedung lantai II (Penambahan), sama sekali yang belum rampung di kerjakan.

https://lampungsai.com/berita-lampung-terkini/polresta-metro-lidik-bangunan-gedung-disporapar-yerri-e-kami-adalah-pengguna-barang-atas-bangunan/

Pantauan tim media, sejak Senin 18 Maret hingga 20 Maret 2019, ditengah rutinitas dinas setempat, didapati lantai keramik retak dan pecah, cat tembok belum maksimal, beberapa ruang belum memadai di gunakan. Kemudian ruang kamar mandi/toilet tidak dapat difungsikan serta lantai II gedung sama sekali belum rampung dikerjakan.

Atas hal ini, pihak Polresta Metro melalui tim Tipikor, tengah melakukan penyelidikan dan telah mengecek langsung kondisi gedung kantor tersebut dengan didampingi beberapa pegawai/staf Disporapar.

Sayangnya, tahap penyelidikan tersebut belum dapat informasi sejauh apa perkembangannya, hingga saat ini. Kasat Reskrim Polresta Metro AKP Gigih Andri Putranto terkesan menghindari wawancara jurnalis yang tergabung di Aliansi Jurnalistik Online (AJO) Indonesia Lampung.

Tim jurnalis ini, berupaya dan berulang meminta waktu luang Kasat Reskrim, untuk dapat dikonfirmasikan perkembangan penyelidikan atas gedung disporapar tersebut, enggan menanggapinnya. Pun demikian dihubungi Via WhatsAps-nya, tak ada tanggapan apapun.

Bertepatan dengan adanya agenda pertemuan jajaran seluruh anggota Polresta Metro di Aula Hotel Grand Skuntum, Kota Metro. Jumat, 07 Februari 2020, sekitar pukul 11.36 WIB. AKP Gigih Andri Putranto, lagi – lagi enggan memberikan keterangan dari wawancara jurnalis.

“Nanti, ini dari mana, saya baru liat. Nanti saya sedang sibuk,”katanya sembari berjalan memasuki mobil menghindari rim jurnalis yang upaya mewawancarainya.

Diketahui juga bahwa, sejak Selasa,19 Maret 2019 lalu, pihak tim Tipikor lakukan penyelidikan dengan memeriksa kondisi fisik gedung kantor Disporapar dan beberapa fasilitas yang ada termasuk kamar mandi/toilet.

Guna informasi akurat untuk pemberitaan tim tipikor belum mau memberikan keterangan dengan mengintruksikan mengkonfirmasikan ke Kasat Reskrim secara langsung.

https://lampungsai.com/berita-lampung-terkini/penempatan-gedung-kantor-dispora-kota-metro-terkesan-di-paksakan/

Sementara itu, Kasat Resktrim sedang berada di luar Kota dan di infokan akan memberikan keterangan di Senin, 25 Maret 2019. Dihari itu juga, mencoba kembali menghubungi, Kasat Reskrim sedang berada di Jakarta.

Selasa, 26 Maret 2019, Kasat Reskrim baru memberikan keterangan keterkaitan Gedung kantor Disporapar, pihaknya meminta waktu, karena masih dalam tahap penyelidikan.

“Saya minta waktu, prosesnya masih tahap lidik,”kata Kasat Reskrim Polresta Metro, AKP Gigih Andri Putranto.

Berbarengan dengan hal ini, diketahui juga bahwa proyek Flying Fox senilai Rp2 Milliar TA 2018 dan Pembebasan lahan termasuk titik nol pondasi senilai Rp200 Juta, pengadaan ATV yang belum dibutuhkan dan restu DPRD. Masuk dalam tahap penyelidikan oleh tim tipikor Polres setempat. Hingga saat ini belum jelas kelanjutan.

Berikut indikasi permasalahan proyek Sumber Sari Park, Metro Selatan. Pembebasan lahan dan pengadaan unit ATV diduga keterlibatan oknum ASN dan pegawai honorer, terganjal payuk hukum Perda.

Lelang proyek tersebut diduga hanya formalitas. CV.Mulyosari yang juga ada peranan oknum ASN lingkup Disporapar Kota Metro, alias proyek Penunjukan Langsung (PL) muncul nama Kusbani selaku Kabid Kepemudaan dan Olahraga di Disporapar setempat.

Indikasi itu muncul, sudah terserapnya dana pribadi milik Kusbani sebesar Rp450 Juta untuk pembelian tanah warga sebagai perluasan areal Flying Fox.

Proses hibah tanah hingga kini pihak Pemkot hanya memegang akta jual beli. BPN ATR Kota Metro menyatakan bahwa pihak Pemkot belum juga menyerahkan berkas Permohonan Pembuatan Akte Jual Tanah (PPAT), untuk tahap pengurusan alih status Sertifikat milik Aset Pemkot.

Data informasi sebelumnya atas hal ini bahwa, Pihak BPN ATR setempat, hanya menerima PPAT tanah Bengkok yang belum bersertifikat yakni Jl SLB, Kelurahan Sumber Sari Bantul seluas 1.900 Meter dan tanah di Jl. Cendrawasi seluas 900 Meter.

Diketahui, Pembangunan flying fox di kawasan wisata Sumber Sari, Bantul, Metro akan direalisasikan tahun 2018 dan terpanjang kedua di Asia Tenggara, dengan lintasan 700 Meter dan 300 Meter.

Tiang pancang utama di pintu masuk Buper. Sedangkan tiang satunya ada di ujung Buper, dibangun secara bertahap.
Pada Anggaran Perubahan TA 2017 itu sudah dianggarkan untuk tiang pancang.  Kedua persoalan ini, Gedung Disporapar dan Protek Flyfok, pihak Kejaksaan Negeri Metro terang menyatakan, pihak Polresta Metro yang menangani perkaranya. (*)

LEAVE A REPLY