Meliput Penangkapan, Wartawan Trans Lampung  Jadi Korban Arogansi Oknum Polisi Dan Polwan

0
831
Yudi (30) berbaju Merah dibekap lehernya dan digelandang layaknya tersangka pidana, jumat 17 Maret 2017./Budi WM

Pesawaran, Lampungsai.com – Tindakan semena-mena oknum polisi terhadap jurnalis kembali terjadi. Kali ini korbannya Yudi (30) Wartawan Media cetak harian Trans Lampung yang bertugas di wilayah Kabupaten Pesawaran. Yudi (30) di tangkap saat meliput langsung penangkapan tersangka pengrusakan Mapolsek Tegineneng, sekitar pukul 12.20 WIB, Jumat 17 Maret 2017.

Dalam video hasil rekaman yang tersebar dalam Youtube dengan judul “Polisi Salah Tangkap” terlihat jelas para oknum polisi berseragam lengkap, mencekik dan menyeret Yudi kala itu. Dan ada oknum polwan seragam lengkap berjilab hitam dan berkaca mata hitam, terdengar suara menyambangi yudi dengan kalimat lantang, “Wartawan dari mana, sudah izin sama saya belum”, demikian di kutip dalam rekaman video yang tersebar.

Kronologis, diungkapkan oleh Yudi (30) yang sedang meliput detik-detik penangkapan tersangka pengrusakan mapolsek Tegineneng, oleh tim gabungan polsek Tegineneng dan Polres Pesawaran, sudah merupakan kewajaran dalam tugas seorang jurnalis. Momen penangkapan itu lah menjadi tayang publikasi yang eksklusif.

Proses penangkapan itu terjadi di jalan raya Tegineneng depan toko meodern. Saat  itulah Yudi, mengambil foto dan sempat merekam video kejadian menggunakan telphon genggam (Handphone) miliknya.

“Saat itulah Oknum Polwan datang dan menyambar tangan saya. Sempat saya menunjukan Kartu tanda jurnalis sebagai bukti seorang jurnalis, namun oknum polwan itu menyita KTA dan memberikannya kepada anggota polisi lainnya,”ungkap Yudi.

Yudi melanjutkan, selain menyita KTA, HP miliknya pun dirampas dan kemudian digeret paksa dengan mendekap leher, layaknya tersangka tindak pidana, memaksa masuk kedalam mobil Doble Cabin.

“Saya di anggap tersangka juga, terlibat dalam pengrusakan mapolsek Tegineneng. Video saya yang digelandang paksa oleh kapolsek itu, direkam oleh teman-teman saya yang berada di Polsek Tegineneng. Saat itu juga saya berkomunikasi dengan Kapolres Pesawaran, barulah dilepaskan oleh para oknum polisi dan Polwan itu,”ujarnya.

Beredarnya video rekaman yang menimpa Yudi, dan banyaknya media memberitakan hal ini, belum ada permintaan maaf sebagai klarifikasi pihak kepolisian terkait. Menurut Yudi, para oknum polisi itu terkesan mencari-cari alasan, harus dapat izin dulu dari Kapolda untuk meliput.

Terkait hal ini, sejumlah awak media yang ada di Provinsi Lampung mengecam tindakan para oknum polisi arogan itu termasuk sang oknum Polwan berkaca mata hitam penuh dengan ekspresi gaya arogan. Selain itu juga, pimpinan umum SKH Trans Lampung Ismail Komar dengan menyulut jiwa korsa seluruh jurnalis trans lampung.

Termasuk kecaman  reaksi keras datang dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Provinsi Lampung. Ketua PWI Lampung, Supriyadi Alfian menyatakan,  apa yang dilakukan Yudi meliput langsung kejadian saat penangkapan, merupakan tugas wartawan yang luar biasa dan harus diapresiasi.

“Meliput kejadian seperti penangkapan secara live, tentunya menghasilkan berita yang aktual. Tapi mengapa watawan malah ikut ditangkap. PWI meminta Polres Pesawaran dan Tegineneng segera melakukan klarifikasi salah tangkap  terhadap Yudi. Dan berikan sanksi tegas kepada oknum Polisi dan polwan terkait,”tegasnya.

Ditambahkan , Albertus Yogy Pratama, menurutnya, arogansi oknum polisi yang semena-mena menangkap Yudi, bukan hal yang tidak disengaja, Yudi sudah berupaya menjelaskan dirinya sebagai jurnalis. Bagaimanapun Polisi ataupun Polwan sudah dibekali pendidikan yang cukup sebelum ditugaskan dilapangan.

Diharapkan, Pimpinan Polda Lampung Inspektur Jendral Soedjarno dengan segera memberikan sanksi tegas terhadap para oknum polisi dan polwan itu. (Ayp/Budi WM)

LEAVE A REPLY