Mega Proyek Flying Fox Diduga Bermasalah, LSM GETAR Menilai Ada Dugaan “Main Mata”

0
209
Foto:Istimewa/Red Ist

Kota Metro, Lampungsai.com – Proyek Flying Fox Sumber Sari Park, Metro Selatan diduga bermasalah. Berdasarkan informasi yang ada, dugaan tersebut masuk tahap penyelidikan pihak Tipikor Polresta Metro, hingga kini  belum diketahui pasti perkembangannya. Ada dugaan “Main Mata” antara Penegak hukum Kota Metro, Eksekutif dan DPRD itu sendiri.

Diungkapkan Direktur Eksekutif LSM Gerakan Transparansi Rakyat (GETAR) Lampung, Edison kepada Lampungsai.com, Minggu, 31 Maret 2019. Mengungkapkan, soal proyek Flying Fox itu, salah satu mega proyek yang sejak lama muncul dugaan bermasalah selain mega proyek pembangunan MCC dan Pasar Cendrawasih serta beberapa proyek lainnya.

Bacahttps://lampungsai.com/berita-lampung-terkini/soal-proyek-flyfox-diduga-bermasalah-pemkot-dan-dprd-kota-metro-nyatakan-masih-proses/

Mega proyek Flying Fox diduga bermasalah muncul juga di beberapa media online, dan tentunya juga informasi yang ada sudah masuk di tipikor Polresta Metro, sejauh apa perkembangannya perlu di gali kembali informasinya kepada pihak terkait.

“Sebenarnya bukan hanya soal Proyek Flyaing Fox yang informasinya ditangani pihak penegak hukum Polres setempat, dimungkinkan tahap penyelidikan. Ada beberapa kegiatan proyek yang masuk dan dibidik dan bahkan mungkin lidik oleh pihak Polres, nah itu perlu ada informasi lanjut, sejauh apa penangannya,”kata Edison.

Dari data informasi yang ada, bahwa proyek Flaying Fox itu di garap pihak ketiga yang tak lain Oknum dari Disporapar itu sendiri, pertama pembangunan pondasi flying fox, pembelian kendaraan ATV, soal pembebasan lahan  atau proses hibah tanah. Berlanjut proyek itu di TA 2018 dengan pagu Rp2 M lebih, kini mangkrak dan kondisinya tidak selayaknya proyek bernilai besar.

“Artinya, tidaklah mungkin pihak DPRD Kota Metro yang utamanya pemangku kebijakan Pimpinan DPRD setempat tidak mengetahui ini. Jika memang pengadaan itu tidak muncul dan atau tidak ada persetujuan DPRD, mestinya ambil sikap tegas dan selanjutnya membuat telaah serta merekomendasikan tim penyidik hukum melakukan tindak lanjut atas dugaan yang ada, bukan malah cuap-cuap mendukung yang kesannya menutupi persoalan dan hanya sebatas pencitraan,”tegas Edison.

Bacahttps://lampungsai.com/berita-lampung-terkini/dugaan-proyek-kota-metro-di-koordinir-sang-pangeran-ini-komentar-wali-kota-a-pairin/

Sebelumnya juga, Edison melanjutkan, hal ini sudah pernah dibawa hearing di DPRD oleh tim Komisi I dan II pada Januari 2019 lalu, lantas apa tindak lanjutnya. Kemudian, diketahui dari salah satu media online, terkutip keterangan dari pihak Kejaksaan Negeri Kota metro, melalui Kasi Intel mewakili Kajari-nya. Bahwa pihak Kejaksaan baru akan menindak lanjuti laporan pengaduan, namun saat akan proses, ternyata kasus ini sudah dibidik oleh pihak Tipikor Polresta Metro.

“Jadi, pihak Kejari mengurungkannya agar tidak terjadi terjadi Miss, mungkin. Komentar Kasi intel itu jelas, yang diberitakan media metrodeadline.com pada Selasa, 12 Maret 2019 lalu,”

Bacahttps://lampungsai.com/berita-lampung-terkini/proyek-flyfox-diduga-bermasalah-kepala-bpkad-akui-sudah-sesuai-aturan-lsm-getar-jangan-asal-ucap-sesuai-aturan/

Kemudian,  di keterangan Kasat Reskrim Polres Metro, AKP Gigih Andri Putranto, kepada Metrodeadline.com mengaku tidak mengetahui adanya berkas masuk laporan pengaduan (Lapdu) tentang kasus pembangunan proyek Flyingfox Sumbersari Kota Metro. Yang kemudian akan mengkomunikasikan kepada tim Tipikor.

“Ini di maklumkan karena beliau (Kasat Reskrim) baru bertugas di Polresta Metro. Lantas yang jadi pertanyaan, ada apa dengan DPRD, Penegak Hukum dan Para pimpinan Pemerintah Kota Metro. Saya rasa ini penting untuk di ulas dan program kebijakan lain di era kepemimpinan saat ini. Jangan sampai terjadi hal yang mencoreng nama daerah seperti kejadian di wilayah Kabupaten lain dengan para pemimpin dan OPD-nya tersandung hukum KKN,”jelas Edison.

Berdasarkan pantauan tim Lampungsai.com, sejak, 25 Februari hingga Selasa, 26 Maret 2019, Kondisi bangunan flyingfox yang menelan dana Rp2 Milliar, dibangun asal jadi dan tidak ada aktifitas pengkerjaan (Tidak selesai), sementara bahan material dan bahan sarana flyingfox tak terjaga, kondisi bangunan tanpa berbalut semen cor.

Diketahui juga, pelaksanaan proyek Flying fox, oleh pihak ketiga CV. Mulyosari Mandiri sejak awal pembangunan Pondasi Flying Fox. Diduga CV tersebut milik ASN yang bertugas di lingkungan Disporapar Kota Metro, Kusbani selaku Kabid Kepemudaan.

Beberapa sumber yang juga kontraktor di Kota Metro, menyebutkan bahwa CV. Mulyosari Mandiri milik Kusbani Cs dan beberapa proyek pengadaan lingkup Disporapar ada peranan dengan Kabid Kepemudaan dan beberapa oknum honorer yang membeli ATV saat itu.

Tidak hanya soal flyingfox, kental dugaan setiap kegiatan proyek Kota Metro sejak tahun 2017 sampai TA 2019, di beberapa Dinas stategis sudah terkondisikan dan diakomodir oleh orang-orang Pimpinan Daerah  dan orang-orang yang di percayakan pimpinan daerah itu sendiri.

“Memang namanya tidak terpaut dalam CV. Dimana-mana Pemerintah, legeslatif pun punya Perusahaan untuk proyek, namun tidak langsung mencantum namanya, tetapi mencantumkan orang yang dipercayakan. Tetap saja, apapun hal nya jika telah masuk dan diproses dalam hukum, pasti akan ketahuan dan terbukti,”kata salah satu kontraktor Kota Metro, yang enggan disebutkan identitasnya kepada Lampungsai.com. (Red)

LEAVE A REPLY