Mata Redaksi : Ada Apa Dengan Ardito Wijaya? Dipinang Ke Organisasi Sayap Parpol PKB

0
792

Mata Redaksi Lampungsai.com :

Redaksi Romzy Hermansyah (Roy)

Salam redaksi, setiap tulisan yang disajikan media ini, acap kali mengangkat isu yang patut dipertanyakan dan diperbincangkan.

Kali ini, Mata Redaksi Lampungsai.com, menulis sajian isu terkini terkait para militansi mesin partai politik pada organisasi sayap partai politik, memangku jabatan struktural inti di organisasi sayap partai lainnya, bisa dikatakan pada partai koalisinya. Menarik di pertanyakan dan diperbicangkan terlebih di musim pilkada serentak 2020 ini.

Ada Apa Dengan P-Golkar?
Ardito Wijaya Loncat Ke Organisasi Sayap Parpol PKB

“Ada apa dengan Golkar? seharusnya organisasi sayap partainya tunduk dengan induk, namun, tidak demikian. Apakah, para pengurus organisasi sayap partai Golkar tersebut dibuang? atau memang sudah jadi strategi baru demi mendulang kemenangan membentuk basis kekuatan bagi PKB Lampung, untuk merontokkan mesin partai Golkar? dan apakah boleh, rangkap jabatan ketua di wadah organisasi beda warna?

Ya..itulah fakta yang ada dan menjadi tanya Ada apa dengan Golkar?

Lampung, Rabu, 14 Oktober 2020 – Pasca pelantikan pengurusan DKW Garda Bangsa Lampung yang merupakan sayap partai PKB Lampung, sebagian jajaran pengurus struktur merupakan para anggota pengurus inti sayap partai Golkar yakni AMPG dan AMPI. Satu diantaranya Ketua AMPI Lampung dr.Hi.Ardito Wijaya dilantik sebagai Ketua Garda Bangsa Lampung, timbulkan tanya Ada Apa dengan Golkar?.

Proses pelantikan, pada Selasa, 13 Oktober 2020, siang di pantai Marina, Kabupaten Lampung Selatan, disaksikan Ketua DPW PKB Lampung, Chusnunia Chalim (Nunik) dan juga Wakil Gubernur Lampung. Diketahui bahwa dr.Hi.Ardito Wijaya konon masih berstatus Ketua AMPI Lampung yang juga salah satu organisasi sayap Partai Golkar Lampung.

Sejak dr.Hi. Ardito Wijaya Pairin mantapkan diri maju di Pilkada Lampung Tengah. Ardito Wijaya juga telah di akui sebagai Kader NU (PKB) Lampung Tengah. Pengakuan itu disampaikan langsung oleh Ketua DPC PKB Lampung Tengah saat pelantikan GP Ansor 4 Kecamatan beberapa waktu lalu.

Dari ini juga sudah jadi sebuah tanya, ada apa dengan Golkar dan PKB Lampung, apakah memang untuk menciptakan sedemikian rupa agar menyatu kedua parpol atau malah menjadi strategi guna melumpuhkan mesin partai golkar Lampung oleh pihak pengurus Partai PKB Lampung, yang dipersiapkan sejak dini guna Pemilu mendatang, dan atau memang tidak ada lagi keharmonisan di intern parpol golkar itu sendiri, apakah ada perpecahan di dalam mesin politik kepartaian Golkar?

Disisi lain, tidak hanya di tingkat Provinsi Lampung, para pengurus organisasi sayap partai golkar AMPI tingkat Kabupaten/Kota juga mendadak masuk dan resmi dikukuhkan sebagai pengurus organisasi sayap partai PKB seperti di Kabupaten Lampung Tengah dan Kota Metro. Namun untuk tingkat Kota Metro yang diundang pelantikan pengurus Garda Bangsa, tidak ada satupun yang menghadiri pelantikan yang berlangsung di Pantai Marina Lampung Selatan itu, salah satunya kandidat Calon Wakil Wali Kota Rudy Santoso diangkat dari Partai Golkar tidak ikut menghadirinya.

Kondisi ini menjadi fenomena dalam hubungan organisasi sayap parpol dengan partai politiknya.

“Entah itu terjadi memang sengaja di ciptakan atau memang para pengurus dari sayap organisasi partai golkar hilang komando dari induknya, hingga bubar barisan dan masuk ke organisasi sayap partai PKB yang dikarenakan berseberangan pemikiran dengan parpolnya, sehingga sejumlah anggota organisasi sayap partai Golkar loncat ke organisasi sayap parpol PKB,”.

“Mengapa demikian? bagaimana terjadinya?, militansi Partai Golkar ke PKB, apakah ada permasalahan intern atau memang ada hal lain?

“Kalau memang terjadi ketidak harmonisan ditubuh organisasi sayap partai dengan induk parpolnya, tentu menunjukkan parpolnya tidak mampu mengkonsolidasikan keberadaan organisasi sayapnya, sehingga yang timbul ketidakharmonisan hubungan antar keduanya”.

Sebab, idealnya membangun hubungan harmonis antar keduanya (Organisasi sayap partai dan parpol), harus mengedepankan prinsip transparansi, partisipasi dan pembangunan militansi melalui kaderisasi. Organisasi sayap parpol, tidak dapat dilepaskan dari fungsi organisasi sayap parpol itu sendiri yang berjalan dalam suatu tubuh kepartaian.

Dalam sistem demokrasi sekarang ini, tentu fungsi yang melekat pada organsiasi sayap parpol, salah satunya membangun hubungan interaksi dan komunikasi dengan parpolnya, yang banyak dilakukan oleh organisasi sayap partai.

“Tanpa adanya interaksi dan komunikasi yang baik, parpol kesulitan dalam mentransfer ideologi dan gagasan kepartaian pada lapis bawah seperti organisasi sayap partai”.

Hubungan yang baik antara organisasi sayap partai dengan parpol, mestinya dilakukan dengan baik dalam menjalankan dan menanamkan kepentingan parpol itu sendiri. Melalui proses interaksi yang baik, maka dalam melakukan sharing gagasan dapat diterima secara baik juga. Sehingga ada ketersambungan dalam implementasi gagasan parpol.

“Artinya, hubungan antar organisasi sayap partai dan parpol menjadi bagian penting dalam peta jalan (road map) parpol guna menjalankan program, gagasan dan ideologi parpol ke lapisan masyarakat”.

Mungkin bisa saja inilah yang terjadi pada parpol Golkar, karena tidak adanya harmonis lagi dengan organisasi sayap partainya, atau ada strategi lain. Mungkin juga, di satu sisi, ada hal menunjukkan permasalahan serius dalam pola hubungan atau interaksi antara organisasi sayap partai dengan parpolnya. Sehingga para anggota organisasi sayap parpol golkar dengan mudah bersebarangan dengan parpol yang merupakan wadah atau induknya”.

Apabila hal itu benar terjadi, maka akan mengancam peran parpol Golkar sendiri, mengingat organisasi sayap partai memiliki peran strategis dan sentral terhadap keberadaan parpol golkad, terutama dalam menghubungkan antara parpol dengan kelompok pemilih yang dapat berbentuk bagan-bagan militansi di tingkat bawah pada lapiran masyarakat baik itu di unsur keorganisasian masyarakat yang ada.

“Peran organisasi sayap partai politik ini juga dapat membantu peran parpol dalam mengartikulasikan aspirasi masyarakat dan atau dapat juga mempengaruhi kebijakan-kebijakan parpol”.

Pada perspektif lain, peran dari organisasi sayap partai menjadi penyambung antara kepentingan parpol dengan pemilih atau konstituen, melaksanakan program kerja parpol secara umum, termasuk juga menjembatani kepentingan konstituen dengan parpol, sehingga dengan mudah
membangun komunikasi politik.

Kembali lagi, jika benar terjadi para anggota organisasi sayap partai Golkar Lampung dan membangun organisasi sayap partai PKB Lampung yang juga partai koalisinya, tentu mengkhawatirkan. Di samping itu, juga akan mengancam tidak tersalurkannya secara efektif proses kaderisasi bentuk tujuan dalam sistem berpolitik partai.

Maka, satu jalan saja, perlu tindakan tegas dari pihak pemangku kewenangan inti dalam tubuh Parpol Golkar Lampung kepada jajaran pengurus organisasi sayap partainya, jika jelas melanggar suatu aturan Parpol, maka segera diberhentikan secara struktural kepengurusan inti organisasi, atau dengan proses PAW. (*)

LEAVE A REPLY