Mantaf!! RSUD dr.Bob Bazar,Skm Kalianda Punya 3 Ruang Khusus

0
2360
RSUD dr. BoB Bazar ,Skm Dari Depan (foto: Lampungsai)

Kalianda,Lampungsai-Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Bob Bazar,SKM Kalianda, dr. Diah Anjarini, terus melakukan upaya peningkatan kualitas Rumah Sakit, baik dari segi pelayanan dan fasilitasnya.

dr.Diah Anjarini Direktur RSUD dr. Bob Bazar,Skm (Foto: Lampungsai)

Terlihat dari awal kita memasuki kawasan Rumah Sakit, parkiran yang sebelumnya tidak tertata rapih dan masih menggunakan sistem manual, kali ini sudah menggunakan sistem parkir otomatis dengan hanya menekan tombol karcis, palang pintu kemudian akan terbuka dengan sendirinya.

Parkir Menggunakan Palang Otomatis (foto:Lampungsai)

Ada 3 macam biaya, tergantung jenis kendaraannya, untuk motor dikenakan tarif 2 ribu untuk jam pertama, jam berikutnya dikenakan seribu dengan biaya maksimal 5 ribu, sedangkan mobil dikenakan tarif 3 ribu untuk jam pertama, jam berikutnya dikenakan seribu, dengan tarif maksimal 7 ribu rupiah dan untuk mobil box/truk dikenakan tarif 4 ribu untuk jam pertama, jam berikutnya seribu lima ratus dengan tarif maksimal 15 ribu untuk 24 jam.

“Kita menggunakan pihak ketiga yaitu HZL Indonesia, lalu petugasnya kita berdayakan warga sekitar yang sudah kita latih. Pengunjung hanya perlu menekan tombol saja, kemudian mengambil karcis. Begitu juga saat akan keluar, pengunjung menunjukan karcis kepada petugas, kemudian membayar sesuai tarif yang ditentukan,” ungkap dr. Diah Anjarini.

Pintu Masuk Ke Ruang Rawat Pasien (foto:Lampungsai)

Pemberlakuan jam besuk juga sudah menerapkan waktu kunjungan yang ketat, dan melibatkan beberapa petugas dari Kepolisian dan Pol PP. Cara ini dapat memberikan penjagaan dan kenyamanan kepada pasien untuk beristirahat, karena pengunjung tidak akan sembarangan keluar masuk area ruangan pasien.

Saat ini ada tiga ruangan yang menjadi program utama RSUD dr.Bob Bazar, SKM, Kalianda, Yaitu ruang Thalassemia, ruang Hemodialisa, dan ruang VCT untuk penderita AIDS.
Ruang Thalassemia

RSUD dr. Bob Bazar, Skm, Kalianda tentunya perlu berbangga diri, karena memiliki satu dari dua ruang penanganan Thalassemia yang ada di Lampung, selain RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung, yang mana peresmiannya adalah yang pertama dilampung yaitu pada tanggal 15 april 2016 lalu.

Pasien Di Ruang Thalassemia (foto:Lampungsai)

Thalassemia sendiri ialah kelainan genetik yang disebabkan kondisi sel darah merah yang mudah rusak 3-4 kali lebih cepat, daripada sel darah orang normal, sehinggga mengurangi pembentukan hemoglobin. Jika pada umumnya sel darah merah normal berusia sekitar 120 hari, tetapi pada penderita Thalasemia hanya berumur 23 hari.

Penanggung jawab ruang Thalassemia dr. Riva Yulianto SpA, mengatakan, bahwa penyakit ini bukanlah penyakit menular melainkan penyakit keturunan dan tidak dapat disembuhkan. Oleh karena itu, penderita Thalasemia harus selalu dibantu oleh obat dan donor darah sepanjang hidupnya.

“Penderita penyakit ini setiap satu orangnya idealnya memiliki minimal 20 kakak asuh, yang rutin mendonorkan darahnya. Karena penderita setiap minggunya, mereka membutuhkan darah yang baru,” ujar Riva.

Data yang ada saat ini, jumlah pasien penderita Thalassemia sebanyak 22 orang. Kemungkinan data tersebut akan bertambah, karena jika ada seorang anak mengidap Thalasemia, dapat dipastikan orang tua anak tersebut pasti mengidap Thalasemia.

Riva menghimbau kepada masyarakat, melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini sebelum menikah antara kedua pasangan, sebagai cara untuk memutus mata rantai penyakit ini.
“Kalau bisa sejak hendak masuk Sekolah Menengah Pertama bisa dilakukan pemeriksaan kesehatan, agar penyebaran penyakit ini bisa diputus,” ujarnya.

Sementara dari bagian Promosi Kesehatan Rumah Sakit, Reni Ayu Fatimah, mengatakan sebaiknya Pemkab Lampung Selatan, segera menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang keharusan pemeriksaan kesehatan sejak dini ataupun sebelum menikah.

“Kita juga sudah beberapa kali melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah tentang penyakit ini dan bahayanya,” papar Reni.

Dirinya mengharapkan, dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan pelajar, pemahaman tentang dampak dari Thalasemia lebih meningkat dan penderita Thalasemia bisa diputus penyebarannya.
“Ayo masyarakat Lampung Selatan,di ulang tahun yang pertama ruangan thalassemia ini, kita bersama-sama membantu penderita Thalassemia dengan rutin mendonorkan darah di RSUD dr. Bob Bazar Skm,”pungkasnya.

Ruang Hemodialisa

Ruangan ini dikhususkan bagi penderita gagal ginjal akut, yang disebabkan hilangnya kemampuan fungsi ginjal untuk menyaring atau membuang racun melalui darah. Sehingga harus dilakukan pembersihan diluar tubuh atau hemodialisa.

Di RSUD Bob Bazar, SKM Kalianda, ruang Hemodialisa telah ada selama hampir 2 tahun lalu, tepatnya 10 Agustus 2015. Saat ini ruangan tersebut sudah memiliki 6 mesin tabung filter (dialyzer) serta beberapa tenaga ahli. Dalam satu bulan, bisa melayani sekitar 233 kali cuci darah untuk 29 pasien tetap, nantinya setiap pasien mendapatkan pelayanan dua kali dalam seminggu secara berkelanjutan.

Perawat Sedang Memeriksa Pasien Gagal Ginjal (foto:Lampungsai)

Pelaksana harian diruang Hemodialisa, dr. Syafriadi, mengatakan saat ini bagi pasien yang baru mendaftarkan diri, akan masuk ke daftar tunggu. Ini dikarenakan keterbatasan alat dan jumlah pasien tetap yang maksimal, sedangkan pelayanan untuk pasiennya tidak hanya dilakukan satu kali saja,tetapi berkelanjutan.

“Nantinya jika ada yang pindah ke Rumah Sakit lain atau misalkan meninggal dunia, yang masuk daftar tunggu tersebut akan kita panggil. Saat ini sudah ada 10 orang yang masuk daftar tunggu,” katanya.

Perawat Sedang Mengoperasikan Alat Cuci Darah (foto:Lampungsai)

Sementara itu menurut Dahono.S.Kep selaku Kepala ruang Hemodialisa, diperlukan waktu 4-5 jam untuk proses cuci darah setiap pasien, tergantung dengan berat badan dan kondisi pasien tersebut. Menurutnya komponen terpenting dari proses ini adalah perputaran pompa darah, karena jika terlalu cepat atau terlalu lambat tentunya akan berbahaya bagi pasien.

“Kita melakukan pemeriksan setiap 1 jam sekali, untuk mengetahui penurunan kondisi pasien, kalau tekanan darah turun maka putarannya juga harus diturunkan, tekanan darah normal untuk penderita gagal ginjal yaitu 200 mmhg,serta 2x pelayanan dalam 1 hari yang dimulai pukul 8 pagi” kata Dahono.

dr. Diah Anjarini berharap, dalam waktu dekat ini pihaknya bisa memperbanyak lagi mesin tabung filter (dialyzer), dan membangun ruang yang lebih luas, karena melihat kebutuhan cuci darah penderita gagal ginjal di Lampung Selatan sangat besar.

“Kalau yang jangkauannya dekat dengan Bandar Lampung pastinya akan lebih mudah dan tidak perlu kesini. Kami juga akan melatih beberapa tenaga ahli lagi, percuma jika alatnya banyak tetapi tenaga ahlinya sedikit, jadi harus seimbang,” ujar Diah.

Ditambahkan dr. Diah, untuk lamanya pelatihan tenaga hemodialisa memakan waktu sekitar 3 bulan, dan baru ada di Bandung yaitu di Rumah Sakit Khusus Ginjal Ny.R.A.Habibie dan di Jakarta yaitu Rumah Sakit Penderita Ginjal Indonesia Cikini.

Ruang VCT (Voluntary Counseling and Testing)

Ruangan yang sudah ada sejak oktober tahun 2010 ini diperuntukan kepada pasien yang terpapar virus HIV atau juga dikenal dengan penyakit AIDS. Diruangan ini para penderita AIDS selain diberikan perawatan dan pengobatan juga diberikan support, agar penderita AIDS ini tidak merasa malu dalam bermasyarakat.

Pada awal dibukanya, ruang VCT hanya menangani 10 kasus. Total sampai saat ini sudah ada 149 kasus, dengan 19 kasus baru di tahun 2017. Hal ini tentunya sudah sangat memperihatinkan, karena jika ada 1 kasus yang terdeteksi di suatu daerah, kemungkinan ada 100 kasus yang tidak terdekteksi.

Dua Konselor Ruang VCT (foto:Lampungsai)

dr. Reni Indrayani selaku konselor dan penanggung jawab ruang VCT mengatakan, bahwa Orang Dengan AIDS (ODA) sebenarnya dapat hidup normal di masyarakat, karena penyakit ini tidak akan menular melalui udara, bersentuhan seperti yang selama ini masyarakat takutkan.

Bahkan, bertukaran air liur karena berciuman saja belum tentu tertular, tetapi penyakit ini hanya dapat menular melalui hubungan seksual ataupun penggunaan jarum suntik yang bergantian dengan pengguna aids

“Tugas kita semua mengubah stigma negatif di masyarakat yang sering mengucilkan para penderita AIDS, karena ODA sendiri mempunyai hak yang sama dengan warga yang lainnya,”

Memang saat ini VCT belum memiliki ruangan yang tetap dan selalu berpindah di RSUD ini, dikarenakan kurangnya tenaga administrasi, tenaga laboratorium, dan konselor. Saat ini saja baru ada 2 konsuler padahal efektifnya harus ada 4 konselor, tenaga lab, dan administrasi.

Bambang Rianto selaku konselor VCT menambahkan, untuk mengajak warga agar dapat memahami pentingnya cek kesehatan agar virus HIV dapat terdeteksi, RSUD ini punya 3 cara penjaringannya yaitu melalui turun langsung ke daerah-daerah, lalu warga yang sukarela memeriksakan kesehatannya, serta pasien yang tidak sengaja berobat.

Saat ini sudah ada obat yang dapat menekan pertumbuhan agar Virus HIV ini tidak berkembang dalam tubuh, sehingga ODA dapat hidup lebih lama. Diharapkan, dengan cara tersebut dapat menekan bahkan memutus mata rantai dari penyait ini, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.

“Setia pada pasangan, menggunakan kondom jikalau memang terpaksa, dan tidak bergantian dalam pemakaian jarum suntik adalah pencegahan yang terbaik,” pungkasnya.(ADV)

LEAVE A REPLY