LSM Ajak Tingkatkan Dukungan Konservasi Gajah Sumatera

0
607

LSM Ajak Tingkatkan Dukungan Konservasi Gajah Sumatera

id
LSM Ajak Lindungi Gajah Sumatera, Nasib Gajah Sumatera, Gajah Way Kambas, Gajah Sumatera

LSM Ajak Tingkatkan Dukungan Konservasi Gajah Sumatera LSM WCS-Indonesia Program mengajak publik meningkatkan kepedulian atas konservasi gajah sumatera yang makin menyusut populasinya. (FOTO: ANTARA Lampung/Ist-dok. WCS-IP)

"Kami mengajak publik untuk mendukung upaya konservasi gajah, mengingat populasinya yang terus menurun," ujarnya pula.

Lampung Timur (ANTARA Lampung) – LSM Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP) dalam peringatan Hari Gajah Sedunia 2016 mengajak publik meningkatkan dukungan dan kepedulian terhadap upaya konservasi gajah sumatera.
Menurut Sugiyo, aktivis WCS-IP di Bandarlampung, Sabtu, berkaitan peringatan Hari Gajah Sedunia Tahun 2016 itu, pihaknya menyampaikan sedikitnya tiga pesan kepada publik.
"Kami mengajak publik untuk mendukung upaya konservasi gajah, mengingat populasinya yang terus menurun," ujarnya pula.
Menurutnya, dalam peringatan Hari Gajah Sedunia, dalam kerangka jurnalis trip ingin meningkatkan dukungan dan kepedulian masyarakat terhadap upaya-upaya konservasi gajah di TNWK.
Perserikatan Bangsa Bangsa telah menetapkan tanggal 12 Agustus sebagai salah satu hari penting internasional, sejak tahun 2012, memutuskan tanggal tersebut sebagai Hari Gajah Sedunia (World Elephant Day).
Dalam kaitan itu, WCS-IP lewat rangkaian kegiatan Jurnalis Trip yang diikuti jurnalis media nasional dan daerah Lampung mengajak berkunjung ke TNWK pada Kamis hingga Jumat (25-26/8)
Pesan kedua menurut Sugiyo, mempromosikan inisiatif masyarakat dalam penanggulangan konflik gajah secara mandiri dan swadaya.
Pesan ketiga, katanya lagi, ingin menyampaikan ke publik bahwa dukungan dari pemerintah daerah untuk penanggulangan konflik gajah dengan manusia dan konservasi gajah itu ada.
Sugiyo menegaskan bahwa peringatan Hari Gajah Sedunia ini juga dimaknai sebagai Hari Perenungan Gajah Sedunia, mengingat kondisi gajah di Sumatera tengah menghadapi ancaman kepunahan.
Menurut dia, ada tiga isu yang menjadi penyebab penurunan populasi gajah khususnya gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), yaitu fragmentasi dan kehilangan habitat alami gajah, pembunuhan serta perburuan bagian-bagian tubuh gajah, dan konflik sumber daya antara manusia dengan gajah.
"Sekian lama populasi gajah semakin menurun dari data yang dikumpulkan, di TNWK sendiri dari data kami pada 2015 hingga 2016 telah kehilangan enam hingga tujuh ekor gajah, hal ini karena terjadi perburuan liar dan juga konflik antara gajah dan manusia," ujarnya pula.
Catatan WCS-IP mengungkapkan dalam kurun waktu 2011-2015 terdapat total 18 ekor gajah menjadi korban, dengan 16 ekor di antaranya mati akibat perburuan liar, dan 2 ekor lainnya mati akibat konflik manusia-gajah di TN Way Kambas.
Sedangkan tercatat dua korban manusia akibat konflik manusia-gajah yang terjadi sejak tahun 2000 hingga saat ini.
Selain korban jiwa, perebutan ruang antara manusia dan gajah juga berdampak pada lahan perkebunan warga, seperti lahan jagung, padi, dan singkong yang mengalami kerusakan.
Pada Januari-Juli tahun 2016 ini saja, WCS mencatat terdapat 153 konflik manusia-gajah pada 7.31 hektare lahan yang tersebar di 17 desa.
Sedangkan data 2013-2015 menunjukkan total 50,71 hektare areal perkebunan warga dirusak oleh gajah.
WCS-IP memperkirakan populasi gajah liar di hutan TNWK Lampung saat ini tersisa 247 ekor.
Mengingat tingginya konflik antara manusia dan gajah itu, WCS berharap peran aktif para pihak dan instansi terkait dalam memberikan kontribusi nyata perlindungan gajah sumatera itu.
Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim menyatakan kesiapannya dalam pengawalan dukungan pemerintah daerah pada pengelolaan konflik manusia dan gajah.
"Kami telah mengalokasikan dana APBD untuk membangun sarana mitigasi konflik gajah, seperti kanal, tanggul, menara jaga dan alat komunikasi. Saya berharap agar masyarakat Lampung Timur dapat hidup berdampingan dengan gajah sumatera melalui infrastruktur yang telah kami bangun," ujarnya pula.
Chusnunia menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2008-2015 pemerintah telah menggelontorkan dana sebesar Rp6.910.421.000 untuk kegiatan mitigasi konflik di desa sekitar TNWK melalui alokasi dana dari APBD Kabupaten Lampung Timur.
"Pembangunan pusat konservasi gajah dan pagar listrik bertenaga surya merupakan contoh upaya yang dilakukan pemerintah," katanya lagi.
Sedangkan untuk menyamakan pemahaman dalam model dan konsep penanganan konflik manusia dengan gajah liar, Pemkab Lampung Timur telah membentuk Tim Kerja Terpadu Penanggulangan Konflik Gajah Manusia, melalui SK Bupati Nomor: 522/341/B/2008 tanggal 6 Maret 2008.
Pemerintah kabupaten setempat juga menyalurkan bantuan ekonomi bagi masyarakat, serta membangun infrastruktur berupa kanal di batas kawasan hutan dengan kebun dan permukiman penduduk daerah ini.
"Unit pelaksana teknis di tingkat Balai Taman Nasional Way Kambas melaksanakan pengelolaan habitat serta upaya deteksi dan mitigasi konflik," katanya lagi.

Editor: Budisantoso Budiman

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Tweets by @antaralampungRead more

LEAVE A REPLY