Bupati Lamteng Dapat Gelar Adat Marga

0
1325
Lampung Tengah, lampungsai.com – Bupati Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng), Dr.Ir.Hi. Mustafa MH hadiri acara Cangget Mupung Mupadun di Gedung Sesat Bumi Aji, sekaligus mendapatkan gelar adat marga di Kecamatan Anak Tuha , Sabtu (30/9) malam.
nampak-pada-gambar-bupati-kabupaten-lampung-tengah-lamteng-dr-ir-hi-mustafa-menari-bersama-para-tokoh-adat-anak-tuha-pada-acara-angget-mupung-mupadun-di-gedung-sesat-bumi-aji-sabtu-309
Dalam sambutannya, Bupati Lamteng, Dr.Ir.Hi. Mustafa menuturkan, prosesi cangget mupung mupadun dan pemberian gelar tokoh adat merupakan bagian dari upaya pelestarian kebudayaan Lampung, khususnya yang bermarga Anak Tuha. Dirinya mengaku bangga, karena warga masih bersemangat untuk melestarikan kesenian dan budaya yang ada,” ucapnya.
Menurutnya, keberagaman suku dan adat istiadat merupakan bagian dari khasanah budaya Indonesia yang harus kita lestarikan. Saya bangga sekali, di tengah perkembangan zaman dan nilai-nilai budaya semakin luntur, namun masih ada warga yang ingin terus melestarikan kebudayaannya. Mustafa yang bergelar Sultan Turunan Aji ini berharap, upaya pelestarian budaya terus dilakukan masyarakat Lampung Tengah. 
Selain Bupati Lamteng mendapatkan gelar adat marga, ada sembilan tokoh juga mendapatkan gelar adat yang di sambut ribuan warga. Dalam acara tersebut di hadiri, yakni Kapolres Lampung Tengah AKPB Dono Sembodo, Dandim 0411/LT Jajang Kurniawan, dan Ketua DPRD Lampung Tengah Junaidi Sunardi.
Mustafa menambahkan, tak melihat perbedaan apapun suku atau latar belakang budayanya, kita harus berupaya untuk menghidupkan kesenian, budaya dan kearifan local yang ada. Lampung Tengah adalah minitaur Indonesia dengan keberagaman suku dan budaya di dalamnya, mulai dari Lampung, Jawa, Bali, Sunda, dan suku lainnya ada disini. Jangan jadikan ini sebagai perbedaan yang memecah belah, tetapi jadikan ini sebagai kekayaan budaya yang harus terus kita lestarikan,” pungkasnya.
Hal senada di katakan Hanafi, salah satu tokoh adat setempat menuturkan, kesepuluh calon sultan yang akan diberi gelar yakni Minak Bagindo, Raja Alam, Raja Kebumi, Bandar Pangeran, Rahman, Raja Asri, Raden Tuan, Batin Paksi, Ratu Midan dan Arsyad. “Prosesi sebelum pemberian gelar dilakukan yakni kami menggelar tarian Cangget Mupung Mupadun. Para muli dari anak penyeimbang dan calon sultan menari bersama. Acara ini dilanjutkan dengan pemberian gelar sultan Saptu besok,” jelasnya.
Hanafi menambahkan, busana yang dikenakan oleh para penari adalah busana asli daerah seperti yang dikenakan pengantin wanita asli suku Lampung lengkap dengan siger dan tanggainya. Busana yang dipakai penari, yakni Sesapur yaitu baju kurung bewarna putih atau baju yang tidak berangkai pada sisinya namun pada sisi bagian bawah terdapat hiasan berbentuk koin berwarna perak atau emas yang digantung secara berangkai (rumbai ringgit,red). 
Sedangkan busana yang digunakan sebagai bawahan adalah kain tapis. Kain tapis adalah, kain tenun tradisional Lampung yang terbuat dari bahan katun bersulam emas dengan motif tumpal atau pucuk rebung. Kain tapis bermotif, sepeti ini biasanya disebut dengan nama kain tapis Dewasana,” jelasnya. (pur)
 

LEAVE A REPLY