Khaidir Asmuni: Pernyataan Dasril Yanto Itu Lupa Atau Kalap, Anggap Orang Lain Tak Waras

0
172
Cagub Arinal Djunaidi (baju kaos putih) bersama Ny.Lee Bos Sugar Grup./arsip

Bandarlampung, Lampungsai.com – Pernyataan salah satu pengurus Partai Golkar Lampung, Dasril Yanto, yang menganggap orang lain tidak waras karena menyalahkan Bos Sugar Grup (GGC), menunjukan pengurus partai tersebut Lupa atau kalap. Ketua Masyarakat Peduli Demokrasi, Khaidir Asmuni, menilai pernyataan Dasril Yanto “Gunakan Kaca mata kuda”. Selasa 01 Mei 2018.

“Dasril menggunakan kacamata kuda, apapun yang dilakukan Purwanti Lee dibelanya dan menganggap orang lain tidak waras. Dasril tidak mempertimbangkan aspek lain. Bahkan, kalangan yang berpijak pada moral pun dianggapnya tidak waras seperti halnya kalangan akademisi,” ungkap Khaidir Asmuni.

Khaidir Asmuni melanjutkan, padahal, di tengah minimnya orang-orang yang netral dan independen saat ini, semestinya kalangan akademisi menjadi pijakan moral tertinggi. “Kalau akademisi sudah tidak didengar lagi bagaimana mungkin orang bisa berteriak tentang moral. Apakah dari politisi seperti Dasril?”ujar Khaidir.

Masih menurut Khaidir, Masyarakat Peduli Demokrasi, memiliki sejumlah alasan mengapa keterlibatan Purwanti Lee, jadi masalah oleh masyarakat. Pertama, dari yang disebutkan kalangan akademisi bahwa di tengah ada persoalan masalah pajak, kenapa ada paslon yang membuka pintu pada keterlibatannya di kampanye. Ini kan jadi pertanyaan? Wajar dong masyarakat mempertanyakan masalah ini. Kenapa dibilang Dasril tidak waras?”

Faktor kedua, lanjut Khaidir, saat ini, keterlibatan pemodal terhadap pasangan calon yang mengikuti Pilkada selayaknya mengikuti budaya dan nilai-nilai yang ada pada masyarakat. Masyarakat tetap membutuhkan independensi paslon yang mandiri yang tidak terikat pada kepentingan permodalan.

“Kalau ini dibiarkan maka rentan terjadi balas jasa ketika seorang paslon sudah terpilih. Dia akan lebih memikirkan untuk membalas jasa. Apalagi biaya yang dikeluarkan sudah sangat besar,”kata Khaidir.

Faktor ketiga, terkait pendidikan politik, “Pasangan calon itu muncul karena memang mereka layak untuk dipilih rakyat. Bukan karena mereka ada uang, termasuk dari pihak-pihak yang membiayainya. Kalau uang dikedepankan maka akan rentan terjadi money politics. Ingat! Money politics,”tegas Khaidir. (TIM)

LEAVE A REPLY