Kasus Tipugelap, Tersangka Broker Tanah Hi.Darusalam Tidak Ditahan, Muncul Asumsi Dalang Persoalan

0
496

Bandar Lampung, Lampungsai.com – Status tersangka Broker Tanah cukup ternama di Bandar Lampung, Hi. Darusalam atas perkara Tipu Gelap uang Rp500 Juta tidak ditahan pihak Polresta Bandar Lampung, muncul asumsi dugaan Hi.Darusalam otak atau dalang dari tindak pidana penipuan dan penggelapan tersebut.

Sebagaimana di ungkapkan oleh Wiwik selaku kuasa hukum M.Syaleh yang lebih dulu ditahan atss perkara tersebut, membeberkan bahwa, Hi.Darusalam sudah cukup banyak memakan uang klien-nya untuk pembuatan Sporadik diatas tanah milik M.Syaleh (Klien-nya), yang sampai saat ini tak kunjung jelas.

“Terserah dalih apapun Hi. Darusalam menyatakan tidak memakan uang se-sen pun. Tapi kami punya bukti dan saksi cukup kuat dan telah kami sampaikan ke penyidik serta melaporkan hal ini ke Polda Lampung,”kata Wiwik.

Ada pihak ke-3 lain sebelum masuknya Hi.Nuryadin.,SH.

Wiwik menceritakan runut persoalan, dalam perkara yang dilaporkan pihak Hi.Nuryadin.,SH ada dua orang terlapor yakni Klien-nya (M.Syaleh) dan Hi.Darusalam.

M.Syaleh menerima uang dengan total Rp.500 Juta ada kesepakatan atas penjualan tanah dengan pihak ke tiga lainnya, dengan menunjuk memberikan kuasa kepada Hi.Darusalam atas jual beli tanah tersebut dari perusahaan cukup besar di Bandar Lampung.

Karena status tanah belum ada SHM, maka membuatlah Sparodik meningkatkan status tanah ke SHM. Dalam perjanjian, pembuatan SHM itu ditanggung oleh pembeli yang mengatasnamakan perusahaan tersebut. Dari ini, Hi.Darusalam sudah cukup banyak memakai uang dari M.Syaleh (Klien-nya) untuk mengurus status tanah dari Sparodik ke SHM. Akan tetapi tidak terlaksana dan terselesaikan.

“Dari proses ini sudah terlihat dan terbukti M.Syaleh juga dirugikan oleh Darusalam,”kata Wiwik.

Masih kata Wiwik, tidak terselesaikannya Sparodik ke SHM itu, akhirnya batallah proses jual beli tanah yang menurut Hi.Darusalam kurang uang untuk menebus Sparodik. Darusalam selaku kuasa dari pembeli, kembali menekan M.Syaleh untuk mengeluarkan uang untuk penebusan Sparodik tersebut. Namun, M.Syaleh tidak memberikan karena sudah cukup banyak uang pribadi dikeluarkan kepada Darusalam, yang harusnya dalam perjanjian pembuatan Sparodik ke SHM ditanggung Perusahaan selaku pembeli.

M.Syaleh Tidak Mengenal Hi.Nuryadin,.SH.

Disampaikan Wiwik (Kuasa Hukum M.Syaleh), karena kurangnya uang untuk penebusan Sparodik tersebut, pihak Perusahaan (pembeli), menghubungi M.Syaleh via telephone mengintruksikan menemui lagi dengan Hi.Darusalam terkait kekurangan uang penebusan Sparodik tersebut.

Saat itu, Darusalam mengajak M.Syaleh menemui Hi.Nuryadin,.SH. dikediamanya.
M.Syaleh sendiri mengira Hi.Nuryadin adalah pihak perusahaan selaku pembeli selama ini. Artinya jelas, M.Syaleh tidak mengenal Nuryadin.

Dalam pertemuan, cukup panjag pembahasan perbincangan yang di lakukan Hi.Darusalam dengan Hi.Nuryadin. Setelahnya, ada kesepakatan maka, M.Syaleh menerima uang dari Hi.Nuryadin. Pada saat itu, Sporadik sudah ada di Notaris dan ditunggu pihak Notaris yang kemudian akan dilakukan pengukuran tanah.

Uang itu, diberikan kepada pemegang Sporadik sebesar Rp500 Juta, namun ternyata Sporadik telah digadaikan oleh pemegang Sporadik tersebut dengan nilai penebusan Rp750 Juta, maka M.Syaleh menambahkan uang Rp250 Juta.

“Setelah ditebus, Sporadik diberikan ke Hi.Darusalam dan Nuryadin. Akan tetapi Sporadik itu tidak diberikan ke Notaris sehingganya tidak bisa naik status tanah ke SHM,”ujar Wiwik selaku Kuasa Hukum M.Syaleh.

Sporadik sudah ada sejak 2006 dan tertanda juga oleh Lurah Bumi Waras, Antoni Edwar.

Wiwik menjelaskan, Sporadik itu perlu pembaharuan dan telah di anulir, lurah pun bersiap saat itu. Namun tidak dibuatkan oleh Hi.Darusalam yang saat itu Hi.Darusalam telah memberikan uang Rp100 Juta kepada Oknum An.Dodi untuk pembuatan Sparodik terbaru, hingga saat ini tidak jelas.

“Hal inilah, yang perlu dipertanyakan kemana uangnya, Hi.Darusalam harus bertanggung jawab dan kami telah laporkan ke Polda serta melampirkan bukti kepada penyidik. Jadi, apapu dalih dan argument Hi.Darusalam, silahkan. Kita buktikan dalam persidangan. Jelas!! Klien kami juga Korban Hi.Darusalam,”tegasnya.

Disisi lain, Kuasa hukum Hi.Darusalam, Handoko mengatakan, laporan yang ada degan terlapor dua orang M.Syaleh dan Hi. Darusalam saat ini masih dalam proses penyidikan di Polresta Bandar Lampung.

Namun disini perlu disampaikan bahwa, Klien kami Hi.Darusalam tidak pernah menerima tau menikmati uang se-sen pun dari M.Syaleh atau Nuryadin.

Hal yang disangkakan kepada Hi.Darusalam berdasarkan penyidikan dan beberapa saksi ahli, tidak mencukupi mentersangkakan klien kami Hi.Darusalam. Kami juga punya alasan dan bukti untuk melakukan upaya hukum. Tidak ada satu pun bukti cukup, Darusalam menerima uang. Yang melakukan pendekatan ke Hi.Nuryadin itu adalah M.Syaleh bukan Hi.Darusalam,”pungkas Handoko.

Dilain pihak, Hendrik selaku kuasa hukum Hi. Nuryadin,.SH, terus melakukan desakan kepada pihak penyidik Polresta Bandar Lampung untuk segera menahan Hi.Darusalam. Tidak ada alasan bagi penyidik untuk tidak melakukan penahanan terhadap tersangka Darusalam.

“Kami tidak pernah menerima surat perkembangan penyelidikan dan penyidikan sebagaimana dalam surat SP2HP. Padahal ini sudah kewajiban kepolisian memberikan dan sudah hak pelapor dalam perkaranya. Sampai saat ini tidak di berikan dan di tanggapi klarifikasi kami sebanyak 2 kli sejak 31 Agustus 2020 lalu. Ada apa dengan Polresta Bandar Lampung,”tukasnya.

Perkembangan perkara ini, kata Hendrik, “Kami menerimanya dari informasi media, bukan dari kepolisian. Yang jelas, tersangka Darusalam selama ini tidak ada etikat baik, dan tidak ada alasan pihak Polresta Bandar Lampung tidak menahan Darusalam. Kami menunggu, dan diharap segera limpahkan perkara ke Kejaksaan,”tegasnya.

Diketahui sebelumnya, perkara hukum yang menjerat Hi. Darusalam dan M.Syaleh dilaporkan Nuryadin pengusaha Besi Tua, ke Mapolerta Bandar Lampung, dengan surat pelaporan : TBL/LP/B-1/405/II/2020/LPG/SPKT/RESTA BALAM, tertanggal 18 Februari 2020. Nuryadin mengalami kerugian Rp500 Juta.

Atas laporan itu, Darusalam bersama M.Syaleh telah ditetapkan tersangka. Kejadian tersebut bermula pada tanggal 12 September 2014 telah terjadi perjanjian bagi hasil antara pihak pertama, H.M.Syaleh dan Pihak kedua Hi.Nuryadin,SH. Sebagaimana isi perjanjian tersebut menyebutkan Pihak ke satu dan pihak kedua bersepakat bahwa pihak ke dua akan memberikan dana sebesar Rp500 Juta, yang mana dana tersebut akan diberikan kepada pihak pertama yang peruntukannya:
1. Untuk membantu pihak ke 1 dalam pembuatan Sporadik tanah seluas 16 Hektar di Desa Kunyit Bumi waras, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung.
2. Pihak kesatu akan mengembalikan dana pokok Rp500 Juta setelah mendapatkan pembayaran dari pihak pembeli.
3. Pihak ke 1 berjanji akan memberikan kompensasi atau perhitungan kepada pihak kedua atas penjualan tanah 16 Hektar/Meter Rp15 Ribu kepada pihak kedua, diperkirakan jumlahnya seluruh 160 Ribu Meter persegi atau sejumlah Rp2,4 Milyar.

Sebelumnya pihak kedua (Nuryadin) telah memberikan uang sebesar Rp125 Juta pada tanggal 09 September 2014, yang ditanda tangani oleh M.Syaleh dan para saksi penyerahan uang Darusalam dan Sugiono.

Lalu bertepatan dengan surat perjanjian tertanggal 12 September 2014, Nuryadin memberikan sisa uang sebesar Rp375 Juta kepada Pihak kesatu M.Syaleh berikut para saksi-saksi Darusalam, M.Basyarudin dan Sudiono.

Pada tanggal 21 November 2014 muncul perkara baru, yaitu pembatalan pembuatan sporadik atas nama M.Syaleh yang ditanda tangani oleh mantan Lurah Bumi Waras, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Anton Idward, NIP : 010144153, dengan alasan :
1. Bahwa sebagian objek sporadik berstatus sertifikat.
2. Sengketa.
3.sebagian milik Pemerintah Kota, 4.sebagaian objek sudah didirikan fasilitas umum.
5.tidak sesuai PP.RI 24/1997 tentang pendaftaran tanah.

Perkara kedua bahwa, Sporadik tersebut telah dibuat tertanggal 03 Maret 2006, berbeda dengan yang dimaksud pihak kesatu untuk pembuatan Sporadik ditahun 2014.

Senin, 07/09/20, laloran Nuryadin, telah diterima dan telah menetapkan tersangkanya, sebagaimana di sampaikan kuasa hukumnya Hendrik.
Sejak hari itu, sampai saat ini tersangka belum dilakukan penahanan oleh pihak Mapolresta Bandar Lampung.

“Kami sebagai kuasa hukum pelapor, sudah melayangkan surat untuk diterbitkan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan dan penyidikan ( SP2HP ) kepada Polresta bandar Lampung, pertama tanggal 31 Agustus 2020 dan kedua saat ini 7 September 2020 sudah kami kirim surat,”kata Hendrik. (Red)

LEAVE A REPLY