Juniardi: Etika Jurnalisme Ada 3 Prinsip, Etika Jurnalis Adalah Pentingnya Akurasi Informasi

0
215
Juniardi saat menjadi pembicara dalam seminar Jurnalistik didampingi Moderator dari Komisariat IMM Fikom Um Metro, Podo Wiseso./Red

Bandarlampung, Lampungsai.com – Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan PWI Lampung, Juniardi, menyebutkan terdapat tiga prinsif etika dalam jurnalisme, yaitu penghormatan terhadap kebenaran, kemerdekaan editorial, dan kebutuhan untuk meminimalkan bahaya.

“Elemen umum etika jurnalis adalah pentingnya akurasi dan standar melaporkan fakta. Menghindari Fitnah atau sabar, dan pencemaran nama baik atau label, serta batasan tidak menimbulkan dampak kerusakan, juga memperhatikan Penyajian, ”

Demikian disampaikan Juniardi, saat menjadi pembicara seminar etika jurnalistik. HUT lampungsai.com bersama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah (UM), Kota Metro, Sabtu 21 Oktober 2017 lalu.

Menurut Juniardi, pentingnya akurasi dan standar untuk melaporkan fakta. Wartawan diharapkan seakurat mungkin dalam melaporkan berita dan mencari nara sumber yang kredibel.

“Setiap kejadian dengan dua atau lebih saksi, dapat dilaporkan sebagai fakta. Termasuk dengan media online daerah digitalisasi sekarang,” kata Sekretaris Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Lampung ini.

Mantan Ketua KIP Lampung pertama ini, mengungkapkan, Koreksi wajib dilakukan jika terdapat kesalahan yang ditemukan. Asas praduga tak bersalah, menggunakan kata diduga bagi terdakwa suatu kasus hukum sampai kejahatan yang dilakukannya benar-benar terbukti dan terdakwa dijerat hukuman.

Melaporkan kebenaran itu hampir tidak bisa dikatakan fitnah. Untuk itu akurasi sangat penting. Orang pribadi memiliki hak privasi yang harus diseimbangkan dengan kepentingan publik saat memberitakan orang itu.

Masih menurut Juniardi, tunjukkan belas kasihan kepada mereka yang terdampak langsung dalam liputan. Gunakan sensitivitas khusus saat berurusan dengan anak-anak dan nara sumber atau subyek berita yang tak berpengalaman. Kenali bahwa, mengumpulkan dan melaporkan informasi, bisa menimbulkan kerusakan atau ketidaknyamanan. Mengejar berita bukanlah menjadi alasan untuk menjadi arogan.

Kini jati diri lembaga media massa, termasuk surat kabar, sebagai bagian dari ekstensi masyarakat adalah berubah, konvensional menjadi digital. Tidak hanya berubah dalam cara kritik, juga dalam sarana atau alat menyampaikan.

“Jurnalis membuat reportase yang memang khusus dibuat untuk ditayangkan di internet, dengan memanfaatkan seluruh kapasitas karakter mediumnya. Proses panjang perubahan yang dilalui, salah satu contoh media Kompas misalnya,  hingga menjadi Kompas.com, tidak pernah menjadikan gagasan, tapi itulah perkembangan,”ujarnya. (Jn/Red)

LEAVE A REPLY