Jelang Pilwalkot 2020, Kebanyakan Warga Kota Metro Inginkan Sosok Kepemimpinan Era Lukman Hakim

0
668

Kota Metro, Lampungsai.com – Pedagang Kota Metro membutuhkan sosok pemimpin seperti mantan Wali Kota Lukman Hakim untuk meningkatkan roda perekonomian di wilayah yang dikenal kota pendidikan itu.

Gaya kepemimpinan Lukman Hakim kala itu, justru membawa kenyamanan bagi masyarakat, terutama bagi pedagang yang berjualan di sekitaran masjad Taqwa.

“Pemerintahan sekarang sudah tidak memperbolehkan lagi menjual disekitaran masjid. Tetapi ya,  apa boleh buat, setiap ganti kepemimpinan, maka ganti kebijakan,”kata Imas (45), Salah Satu Pedagang di sekitaran Masjid Taqwa. Kamis, 16 Januari 2020.

Meski sudah tidak diperbolehkan lagi berjualan di sekitaran Masjid Taqwa, wanita berhijab ini tetap mengais rezeki di tempat tersebut secara “kucing-kucingan” bersama Pol PP.

“Kalau ada Pol PP,  saya pura -pura gak berjualan.  Karena kalau ketahuan dagangan saya bisa diangkut,”ungkap janda tiga anak ini.

Selain itu,  kata dia, adanya penurunan pendapatan secara drastis dari berjualan sangat dirasakan olehnya.

“Dulu sewaktu masih dibolehkan jualan disini, dalam sehari sekitar pukul 11.00 WIB -17.00 WIB, saya bisa mendapatkan Rp 100 ribu. Sekarang, hanya Rp 50 Ribu/hari dari berjualan kopi dan parkir,”ungkapnya.

Ia berharap,  siapapun Wali Kota – Wakil Wali Kota Metro terpilih, agar lebih memperhatikan para pedagang kecil dalam mengais rezeki untuk kebutuhan sehari-hari. Ekonomi kerakyatan di Kota Metro harus lebih ditingkatkan lagi.

Masyarakat Kota Metro membutuhkan sosok pemimpin yang memperhatikan Usaha Masyarakat Kecil Menengah (UMKM) demi meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Eva (46) warga Kauman, Kota Metro mengatakan, penggiat UMKM membutuhkan peran serta dari pemerintah.

“Jadi kami membutuhkan pelatihan dan membantu memasarkannya. Dengan begitu,  ke depan Metro bakal lebih maju lagi,” kata dia.

Selama ini, pemerintah kurang dalam mensosialisasikan program pelatihan untuk masyarakat.

“Selama ini orang yang ikut pelatihan (sulam usus,  sulam terawang) itu – itu saja. Setelah ikut pelatihan,  ya tidak ada lagi peran dari pemerintah, sehingga banyak masyarakat merasa bingung dalam mencari modal awal dan memasarkan hasil karyanya,”ungkap Eva.

Ia berharap, pemerintah bisa memberikan perhatian terhadap penggiat UMKM. Dengan begitu,  ke depan, Kota Metro bisa menjadi salah satu kota tujuan untuk memasarkan hasil karya penggiat UMKM.

Program yang digagas Pemerintah Kota Metro saat ini, hanya bersifat sementara dan tidak efektif dalam mengangkat dan menaikkan taraf penghasilan masyarakat.
Pemberdayaan ekonomo kreatif bisa menjadi salah satu kunci bagi masyarakat yang mempunyai penghasilan dibawah rata-rata.

Tentunya konsep ini harus mengintensifkan kreatifitas baik ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia. “Potensi keberhasilan dari konsep ekonomi kreatif ini sangat besar. Kami (masayarakat) sebagai objek yang harus diberdayakan pemerintah dari tujuan ekonomi dengan konsep modern itu,” tandas Eva.

Disisi lain, harapan bagi masyarakat terhadap calon kepala daerah terpilih nantinya, muncul dari pelaku pendidikan di Kota Metro.

Anisa, Mahasiswi STKIP Kumala, meminta Pemerintah bisa lebih memperhatikan dunia pendidikan dengan lebih sering menyelenggarakan event.

“Kalau bisa eventnya dilaksanakan selama 1 bulan sekali, misalnya cipta puisi dan cipta cerpen ataupun menulis. Dari penyelenggaraan event tersebut, bisa menjadi inspirasi para pelajar kota Metro untuk mengembangkan bakat dan kemampuan. Bahkan mungkin bisa terbentuk komunitas untuk mengembangkan bakat dan kemampuan pelajar dan saling sharing, belajar bersama,”ucapnya.

Hal senada disampaikan Umi, diharap juga kepada para tenaga pendidik bisa lebih memperhatikan bakat dan minat para pelajar dengan merubah metode pembelajaran.

“Metode pembelajaran jangan menuntut anak untuk belajar di dalam kelas saja, agar tidak cepat bosan. Karena terkadang ada anak yang suka dengan gaya belajar di dalam kelas. Ada juga ada yang suka dengan metode pembelajaran diluar kelas,”ujarnya.

Termasuk juga, kata Umi, perlu diadakan kegiatan semacam lomba berbahasa dan menulis aksara Lampung.

“Intinya, kita tinggal di Lampung, jadi harus bisa berbahasa Lampung. Bahkan sekarang ini banyak anak sekolah dasar yang tidak bisa aksara Lampung.
Disinilah letak dan peran Pemerintah dalam melestarikan kebudayaan dan harus dipegang teguh. Transformasi budaya menjadi salah satu indikator terkikisnya bahasa Lampung,”jelas Anisa. (*)

LEAVE A REPLY