IKAT Dan Sekolah Virtual Perempuan Gelar Webinar Kawin Campur Tema KDRT

0
1081

Jerman, Lampungsai.com – Warga Negara Indonesia (WNI) di wilayah Eropa berbagi pengalaman dan informasi tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).Tingkat KDRT di wilayah Eropa cukup tinggi, berkenaan ini Indonesisches Kultur Agentur Team (IKAT) dan Sekolah Virtual Perempuan Adakan Webinar Kawin Campur bertemakan KDRT.

Webinar temu virtual pelaku kawin campur di ikuti peserta mencapai 100 orang asal eropa, brazil, Iran, Amerika Serikat dan Indonesia. Minggu, 27 Juni 2021.

Para peserta sangat beragam, tidak hanya dari kalangan pelaku kawin campur saja, Warga Negara Indonesia (WNI) dari berbagai organisasi kesejahteraan perempuan, organisasi kemasyarakatan, komunitas Warga Negara Indonesia di Eropa hingga media dan perwakilan Pemerintah RI yang ada di Eropa.

Webinar tersebut bertujuan meningkatkan informasi dan edukasi tentang KDRT kepada masyarakat Indonesia di luar negeri, terutama pelaku kawin campur yang tinggal di Eropa. Kemudian bertujuan untuk mendorong standar perlindungan WNI oleh perwakilan Pemerintah RI di Eropa dan membagikan praktik baik perlindungan hukum yang sudah dilakukan, terutama kasus KDRT di Eropa.

Selain itu, untuk meningkatkan kesadaran dan kecakapan diri warga Indonesia, khususnya yang tinggal di Eropa, untuk mengatasi dan melaporkan KDRT apabila mengalaminya.

Webinar yang berlangsung selama dua jam ini dipandu oleh moderator Vinny Flaviana Hyunanda dan terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas tema KDRT dari berbagai perspektif. Salah satunya adalah dari penyintas KDRT Rizki Suryani yang kini menetap di Swedia. Lalu, penjelasan perspektif psikologi oleh Psikolog Anita Kristiana.

Termasuk juga, Elis Murniwati yang menjadi Staf Ahli Pendamping Korban KDRT juga berbagi pengalaman mendampingi kasus KDRT selama ia bekerja di Spanyol. Peserta juga mendapatkan informasi praktis dari sisi hukum melalui pengalaman Mutiara Anggun, Diplomat RI yang pernah bertugas di Serbia dan menangani kasus KDRT di sana.

Dikesempatan itu, KBRI Berlin menjelaskan standar perlindungan WNI yang sudah berjalan di Jerman. Temu Virtual Pelaku Kawin Campur bertema KDRT merupakan inisiatif dari Sekolah Virtual Perempuan, sebuah ruang belajar lintas batas untuk perempuan Indonesia, baik itu lintas negara, etnisitas, agama, budaya, kelas sosial-ekonomi maupun tingkat pendidikan serta profesi.

Di tengah potensi bertambahnya KDRT di masa pandemi, tema KDRT menjadi fokus temu virtual kali ini. Terlebih, KDRT masih menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan, ditambah lagi kurangnya pengetahuan WNI tentang prosedur pelaporan kasus KDRT dan minimnya akses informasi perlindungan hukum di luar negeri.

Sebagai tindak lanjut dari webinar ini adalah terbentuknya virtual support group untuk korban KDRT dan kelompok relawan yang mumpuni dalam mendampingi korban KDRT di Eropa. Selanjutnya, Sekolah Virtual Perempuan adalah upaya kolektif perempuan Indonesia di rantau untuk menyediakanruang alternatif bagi perempuan Indonesia di mana saja untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman. (Rilis)

LEAVE A REPLY