Fokus Inovasi BI Berdayakan Ekonomi Syariah Di Era Digitalisasi

0
62
Suasana seminar./Rilis

Bandar Lampung, Lampungsai.com – Pertumbuhan financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin) yang mencapai digit 1.705 perusahaan pada 2017, tertinggi di ASEAN serta tertinggi keempat di dunia adalah kabar baik di tengah iklim ekonomi disruptif saat ini.

Merujuk data nomor seluler aktif di Indonesia, mencapai agregat 350 juta nomor lintas operator, dan saat semua orang telah akrab dengan telepon cerdas, kini bukan masanya lagi menggunakannya hanya sebatas untuk komunikasi voice dan komunikasi data belaka, bermedsos ria misalnya, tapi telah menggejala untuk kegunaan yang lebih produktif, berbisnis.

Hal tersebut disampaikan, Kepala Divisi Teknologi Finansial (Kadiv Tekfin) Departemen Kebijakan Dan Pengawasan Sistem Pembayaran (DKSP) Bank Indonesia, Susiati Dewi, pada Seminar Digital Solution for Farming Industry, yang diorganisir Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Lampung, di Ballroom Hotel Swiss-bel, Telukbetung, Bandarlampung, Jumat 03 Agustus 2018.

Masih menurut Dewi, maraknya lahir platform aplikasi penjualan daring, e-dagang (e-commerce), yang konsisten tumbuh 1,8 persen per tahun dan penetrasi industrinya mencapai 49 persen, jadi bagian fenomena disrupsi digital dimana Indonesia jadi rupa model negara yang “keduluan” kehadiran tamu bernama Revolusi Industri 4.0.

Dengan penetrasi supercepat era data raksasa, intelijensia buatan, machine learning, otomasi robotik, dan tergantikannya tenaga manusia dengan sumber daya teknologi digital yang lebih efisien, harus dipandang sebagai peluang. Kesuksesan GoJek, misal, dengan valuasi Rp8,7 triliun dan membukukan kontribusi Rp1,7 triliun ke seluruh mitranya pada 2017, mampu membelalakkan mata dunia.

“Sehingga, secara responsif, sebagai instrumen makroprudensial negara, Bank Indonesia (BI) turut berkepentingan berdiri di garda terdepan dengan menggelontorkan program layanan inovatif, UKM Go Digital,”katanya.

Susiati mengatakan, jika dibandingkan, tetap lebih banyak untung daripada ruginya, atas moncernya pertumbuhan fintech ini. Sebagai pengampu teknologi baru berbasis internet, fintech makin ke sini makin memanjakan end-usernya termasuk petani dan rakyat perdesaan.

Kini nasabah bank termasuk nelayan dan petani, lebih banyak punya pilihan transaksi perbankan dan layanan keuangan yang all in, serba digital. Semua serba lebih cepat dan kaya metode, rangkaian transaksinya makin pendek, makin inklusif. Petani, kini bisa langsung connect dengan pemasok pakan, pabrik pupuk, dan pembeli produk.

“Secara inklusi keuangan, terkait penetrasi ruang lingkup produk dan jasa perbankan termasuk yang berdimensi syariah, kami juga terus memonitor tumbuh kembang akun rekening aktif yang untuk kategori nasabah usia dewasa saja mencapai total 49 persen dari total nasabah,” ujarnya.

Susiati menjelaskan, BI juga melakukan sejumlah fasilitasi ihwal digital farming. Mulai pemanfaatan teknologi digital, teknologi drone, melajukan replikasi dan duplikasi pilot percontohan industri tekfin untuk perluasan skala nasabah atau coverage konsumen, dan mempertajam keterpaduan input basis data sebagai sumber daya kebijakan.

Guna memperpendek rantai pasok, dalam upaya mempertemukan penjual dan pembeli, BI sudah masuk ke klaster-klaster pertanian. Tetapi kami belum bisa masuk ke skala yang lebih end-to-end.

“Melalui pendekatan syar’i, berbasis enam poin pembiayaan syariah yang telah baku, kami optimis skema bagi hasil khas syariah yang diterapkan dalam pola kolaboratif pertanian digital ini, ke depan akan lebih masif. Misalnya 40 persen untuk investor, 20 persen petani, 20 persen untuk pemilik platform,”ungkapnya.

suasana seminar/Rilis

i-Grow: Perangi Disrupsi, Dengan Teknologi Pertanian Presisi

CEO i-Grow Andreas Senjaya menjelaskan, hal ini saat presentasi makalah Precision Agriculture Technology dalam Optimalisasi Lahan Pertanian di Indonesia. Sebagai pelaku usaha rintisan (start-up) berbasis agrobisnis digital, pengalaman mencari klaster pemodal justru langkah paling mudah dalam skim kolaborasi antarpemangku yang ditaja perusahaan start-up bertumbuh, i-Grow. Wow.

Mulai jejaring pemilik modal berpenghasilan stabil sehingga bisa berinvestasi menaik bertahap, petani berkemampuan khusus (skill farmer), para pembeli (off-taker) sebagai end-user sekaligus pemangku hilir, hingga mitra pemilik lahan yang kini tercatat 2.800 hektare tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi.

“Koordinasi ketat antar pemangku, mengkonsolidasikan platform aplikasi teknologi digital i-Grow, yang hingga kini telah menautkan sedikitnya 28 komoditas pertanian unggulan dalam menu saji layanan produk platformnya di layar ponsel pintar kita”jelasnya.

Jadikan Teknologi Digital, Sahabat Budidaya Perikanan

Petikan testimoni CEO i-Fishery, Gibran Huzaifah, memaparkan, masih adanya mispersepsi terhadap eksistensi teknologi yang dianggap sebagai substitusi produk atau layanan, butuh pembetulan. Fenomena lahirnya GoJEK sebagai platform aplikasi transportasi publik digital terbesar di Asia, dan jadi pionir penyelesai masalah hilirisasi kebutuhan transportasi publik, dengan sendirinya mematahkan pendapat tersebut.

Kini teknologi lebih dipandang sebagai bentuk evolusi produk atau layanan. Seperti ponsel, terus meningkat model, jenis, ulititas, hingga kapasitas teknologinya yang berkemampuan jadi digital assistant penggunanya.

Itu pula yang muaranya melatari kelahiran platform aplikasi digital akuakultur asal Bandung, Jawa Barat, i-Fishery.

Dalam perjalanannya, para pelaku usaha rintisan (start-up) budidaya perikanan baik perikanan darat, perikanan pantai/laut, maupun pertambakan udang ini menjadi sangat dekat dengan keseharian hidup pembudidaya ikan, para nelayan, dan petambak udang. “Nyemplung”, atau sekadar berlama-lama di bibir kolam memonitor tumbuh kembang ikan, jadi bagian hidup mereka.

Pengalaman berbudidaya ikan di Lampung, kita tahu mayoritas biaya 90 persen tersedot di pakan. Sementara untuk udang berkisar 50 persen komponen biayanya habis di pakan. Detailnya kami pelajari betul, sampai kami tahu, bisa memetakan, hari apa, jam berapa, dimana saja, kolam ikan yang sedang banjir pakan, atau yang sedang dilanda kelangkaan.

“i-Fishery bahkan telah bisa jadi asisten para pembudidaya, kami kasih tahu bahwa kolam Bapak terpapar polutan, atau terlalu banyak nutrisi larut serta pakan rusak, misalnya,”ulasnya. (Rilis/Red)

LEAVE A REPLY