Fisik Dan Piranti Flyfox Sumbersari Diduga Belum Savety, Meli Mengaku Lebih Dari Standar Nasional

0
614

Kota Metro, Lampungsai.com –  Wahana outbound Flying Fox Sumbersari, Bantul, Kecamatan Metro Selatan diduga belum savety. Selain dari fisik infrastruktur, juga peralatan atau fasilitas Flydox diduga belum  standar outbound. Pihak Disporapar mengaku sudah sesuai standar lebih dari SNI.

Flyfox tersebut diklaim terpanjang se – Asia lebih kurang 700 Meter, dan telah diresmikan louncing oleh Pemerintah setempat dihadiri Pemerintah Provinsi Lampung, pada Senin, 25 Januari 2020 lalu.

Hasil indep reportase tim media ini, bersama dua orang pakar outbound flydox luar Kota Metro, dua hari usai peresmian, turun ke lokasi Flyfox Sumbersari, kondisi fisik infrastruktur diduga dipasang asal jadi, tiang – tiang Inchore dipasang las tak ada kekuatan savety, titik koordinat inchore tidak lurus dan luasan bentang kiri – kanan lajur atau lintasan Flyingfox tidak savety.

Selanjutanya peralatan lain seperti Carabiner, Sit Harenness, Full Body, Webbing dan lainnya, bukan standar outbound flyaingfox. Namun dipakai atau dibeli lewat pengadaan oleh pihak Disporapar merupakan peralatan standar savety yang digunakan catclimbing (Cat Dinding Gedung/Tower).

Terbukti saat peresmian dan uji coba launching Flyfox, beberapa kendala terjadi diantaranya alat yang dipakai pecah dijalur lintasan dan pengujinya tergantung berjam – jam di atas tali lintasan. Sejak itu, Flyfox jarang ada pengunjung menikmati wahana tersebut, lantaran belum savety.

Dua orang sumber yang dapat dipercaya dan juga pakar dari outbound dari luar Kota Metro, mengatakan bahwa, alat – alat flyingfox sampai dengan fisik bangunan sangat mengkhawatirkan, artinya belum savety. Fisik bangunan setiap titik inchore semua bergetar kala dinaiki, pagar las tak beraturan, selain itu tiang stand outbound miring dan titik koordinat tidak lurus.

“Kami sudah ukur titik dan jarak dengan alat pengukur khusus, ternyata jalur ini semua blum savety. Saat uji coba, dapat informasi tim kami mengalami masalah, tergantung di lintasan lantaran peralatan piranti yang di pakai dari Disporapar membahayakan jika dipakai, sebab peralatannya bukan untuk flyingfox tetapi untuk nge-cat gedung atau tower. Saat itu mereka (tim Metro) kami memakai alat- alat kami, tentunya jika dibandingkan sangat jauh, dari peralatan yang disediakan Disporapar,”kata sumber.

Sumber menjelaskan, supaya semua pihak memahami mengenai piranti flyingfox yang standar sampai peralatan pelindung diri atau APD. Diantaranya, Carrabiner
atau cincin kait, fungsi salah satunya penghubung dari sabuk pengaman yang dikenakan dan sebagai alat penghubung dari Pullay ke tali pengaman tubuh.

Bahanya adalah allumunium alloy dan juga berbahan baja. Sedangkan dari bentuknya ada berbagai bentuk yaitu carrabiner oval, carrabiner Delta dan lain-lain. Kemudian Seat Harness dan Full Body Harness adalah peralatan yang digunakan sebagai sabuk pengaman dan ditempatkan pada bagian paha hingga pinggang dan bahu.

Perbedaan antara seat harness dan full body harness adalah pada bagian tubuh yang terlindungi, dari pangkal paha hingga pinggang. Sedangkan full body harness dari pangkal paha hingga bahu. Keduanya memiliki loop atau lubang untuk menambatkan carrabiner pada bagian depan dan kalau full body harnesses sering juga dilengkapi loop atau lubang ring pada bagian belakangnya.

Dari sisi kekuatan, biasanya dalam setiap intruksi penggunaannya akan terdapat informasi mengenai kekuatan maksimal baik dari sit harnesses dan juga full body harnesses.

Selanjunya, masih penjelasan sumberz Webbing atau Slink Nylon
Webbing berfungsi sebagai tali anchore untuk mengamankan sebelum melakukan permainan flying fox atau dapat juga dikategorikan sebagai pengaman sementara. Webbing yang sering digunakan adalah yang berbahan dasar serat nylon dengan lebar 2,5 Cm.

Tali Rem Flying Fox dan Stopper, berfungsi untuk membatasi atau memberhentikan daya luncur ketika kita akan tiba di titik pemberhentian, hal ini tentunya untuk menjaga agar saat akan sampai di titik finish flying fox, kita tidak terbentur atau melebihi jarak lintasan, sehingga dapat terhindar dari benturan dengan titik anchore slink baja, sedangkan tali rem flying fox adalah sebagai penahan atau pengatur dari seperangkat peralatan rem atau stopper tadi yang tergantung dengan slink baja. Tali rem flying fox dapat menggunakan tali carnmantel static atau tali layar.

Stopper atau rem flyoing fox, biasanya yang sering digunakan adalah yang terbuat dari per spiral atau bisa juga dengan menggunakan telor angsa yaitu sebutan untuk pelampung yang sering digunakan untuk jarring ikan di laut.

“Nah, alat alat ini yang sebagiannya bukan standar yang dipakai, saya berani pastikan itu, sebab tim kami diminta untuk melakukan uji coba saat itu. Kami melihat titik awal saja atau titik koordinat dan fisik bangunannya saja sudah mengkhawatirkan, apalagi alat pirantinya. Alat – alat yang disediakan itu, standar untuk menge-cat gedung tinggi atau tower, bukan standar flyfox,”pungkasnya.

Sumber menambahkan, “Demi keamanan maka kami meminjam printi tim yang kami koneksikan, bukan milik Disporapar. Kalau ditanya yang memasang sling jalur, peralatan rool kami pernah dipinjam rekan kami dari Metro ini,”imbuhnya.

Atas dugaan ini, Kepala Disporapar sedang berada diluar Kota. Melalui Sekretaris Putu didampingi Bidang Pariwisata, Meli mengaku bahwa, semua fasilitas flyingfox sudah standar dan lebih dari SNI sampai pada piranti keselamatan hingga bangunan fisik.

“Tidak mungkin Kita menggunakan alat standar biasa, yang jelas kita pakai standar, bahkan melebihi standar nasional, apalagi nilai anggarannya gak sedikit,”ujarnya saat dikonfirmasi diruang kerja Sekretaris. Kamis, 13 Februari 2020.

Saat dimintai keterangan tentang detail jenis dan kualitas alat safety keamanan, pihak Disporapar menganggap hal tersebut tidak perlu untuk dipublish.

Menurut Meli, bahkan PPTK pun akan memiliki jawaban yang sama dengan dirinya. Terutama terkait Merk barang (Alat safety), pihaknya tidak terfokus dalam hal itu, yang terpenting adalah alat yang memenuhi standar nasional.

“Kami tidak bisa spesifik itu, itu ada di HPS standar nasional, karena kalau merk terkadang sudah bagus, ternyata masih ada yang bagus lagi,”ujarnya.

Sementara itu, PPTK Parno sedang tidak berada diruang kerjanya, untuk dikonfirmasikan. (Tim)

LEAVE A REPLY