Dir Pengolahan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementan RI Dan PT Mayestik Integriti Indonesia Kunjungi Tanggamus

0
545

Tanggamus, Lampungsai.com – Bupati Kabupaten Tanggamus, Dewi Handajani sambut kunjungan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Kementerian Pertanian beserta rombongan, agenda Diskusi Investasi Dan Pemasaran Kopi Tanggamus bersama Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementan RI dan PT. Mayestik Integriti Indonesia. Agenda berlangsung di Ruang Rapat Utama Setda Kabupaten setempat. Rabu, 22 September 2021.

Bupati Dewi Handajani dalam sambutannya menyampaikan, agenda ini merupakan tindaklanjut dari kegiatan Merdeka Ekspor yang di selenggarakan pada 14 Agustus 2021 lalu. Selain itu juga dalam rangka mendukung Gerakan Tiga Kali Ekspor (GRATIEKS) Perkebunan yang salah
satu andalannya adalah komoditas kopi.

“Upaya ini tidak lain bertujuan untuk memperluas pasar kopi tanah air di kancah dunia guna mendapatkan nilai dan harga yang lebih dari saat ini, dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya,”ujarnya.

Bupati juga menyampaikan bahwa, Kabupaten Tanggamus memiliki wilayah perkebunan seluas 82.878 ha, yang didominasi oleh Perkebunan Kopi Robusta. Komoditi Unggulan Kopi Robusta memiliki luas 42.137 Ha, dengan produksi 34.973 Ton/Tahun.

Adapun keseluruhan lahan adalah perkebunan rakyat yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Tanggamus, dimana terdapat 5 kecamatan yang merupakan sentra penghasil utama kopi robusta Tanggamus yaitu, Kecamatan Ulu Belu (luas 10.843 Ha dan produksi 10.422 ton), Kecamatan Air Naningan (luas 10.718 Ha dan produksi 6.820 ton),

Lalu, Kecamatan Sumberejo (luas 3.444 Ha dan produksi 3.214 ton), Kecamatan.Talang Padang (luas 2.347 Ha dan produksi 2.690 ton) dan Kecamatan. Pulau Panggung (luas 1.998 Ha dan produksi 1.552 ton).

Selain kopi robusta, Kabupaten Tanggamus memiliki komoditas perkebunan lainnya seperti Kakao luas 13.677 Ha dengan produksi 6.531 Ton, dan Lada luas 7.859 Ha dengan produksi 3.483 Ton. Komoditas ini juga masih memerlukan perhatian dari para investor dalam upaya peningkatan kualitas pengolahan dan pemasarannya.

Masih kata Bupati, permasalahan yang dihadapi Petani pada umumnya dalam pengembangan hulu dan hilir perkebunan dan peternakan di Kabupaten Tanggamus, salah satunya adalah ketidak pastian harga di tingkat pengepul/pembeli, bahkan cenderung mengalami penurunan pada tiap musim panen raya.

Sehingga menyebabkan petani mulai melirik komoditas pertanian lainnya yang dihawatirkan dapat mengurangi luas lahan bahan baku kopi yang ada di Kabupaten Tanggamus, selain itu ketersediaan peralatan pasca panen dan pengolahan hasil, masih relatif minim dibadingkan dengan luas lahan yang ada saat ini, sehingga akan berakibat kualitas hasil perkebunan tidak maksimal.

“Selama ini mayoritas hasil kopi di Kabupaten Tanggamus dipasarkan dalam bentuk greenbean (biji kering), yang biasanya dijual melalui pedagang pengumpul selanjutnya langsung disalurkan kepada gudang maupun ekportir dengan kualitas biji asalan,”jelas Bupati.

Selain pedagang pengumpul, Bupati melanjutkan, sebagian kecil pemasaran kopi Tanggamus sudah ada yang bekerja sama langsung dengan beberapa perusahaan eksportir dan pengolah seperti PT. Nestle, PT. Mayora, Indocofco, PT. LouisDreyfus Commodities, PT. Asia Makmur, PT. Olam dan Need Coffee.

Di samping itu, sebagian kecil juga sudah dilakukan pengolahan kopi bubuk oleh beberapa UMKM yang ada di Kabupaten Tanggamus dengan pemasaran lokal maupun antar kabupaten di Provinsi Lampung.

“Kondisi tersebut memerlukan perhatian dan solusi baik oleh Pemerintah (pusat dan daerah) maupun oleh sektor swasta, Pemerintah Pusat melalui Direktur Pengolahan dan Pemasaran,”pungkasnya.(Red)

LEAVE A REPLY