Bangun SDM Industri Kompeten, Pemerintah Siapkan Rp 1,78 Trilliun Di 2019

0
23
Ilustrasi./Rilis

Jakarta, Lampungsai.com – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah mengalokasikan sedikitnya Rp1,78 triliun pagu alokatif APBN 2019 untuk menaja 4 strategi pendukung program pembangunan SDM industri kompeten di tahun 2019, demi realisasi Making Indonesia 4.0 sebagai peta jalan arah dan strategi pengembangan industri manufaktur nasional agar lebih berdaya saing global di era digital, jadikan Indonesia 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.

Hal itu dijelaskan Sekjen Kemenperin Haris Munandar, pada diskusi media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk “Membangun SDM Menyongsong Era Industri 4.0: Memastikan Infrastruktur TIK, Industri Manufaktur, SDM Riset, dan Skema Dukungan Anggaran”, di Jakarta. Selasa, 12 Maret 2019.

Dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Rabu (13/3/2019), diketahui ke-4 strategi pendukung program prioritas peningkatan kualitas SDM industri kompeten. “Strategi pertama adalah membangun pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi menuju dual system yang diadopsi dari Swiss dan Jerman.”

“Saat ini, Kemenperin memiliki 9 SMK, 10 politeknik, 2 akademi komunitas. Unit pendidikan vokasi ini sudah link and match dengan industri, sehingga lulusannya terserap kerja maksimal 6 bulan setelah wisuda,” jelas Haris.

Strategi kedua, urainya, pembangunan politeknik dan akademi komunitas di kawasan industri. “Kami telah bangun Akademi Komunitas Tekstil di Solo (Jateng), Politeknik Industri Logam di kawasan industri Morowali (Sulteng), Akademi Komunitas Industri Manufaktur di Bantaeng (Sulsel), Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal (Jateng),” sebutnya.

Masih kata Haris, 2019, “Kemenperin memfasilitasi pembangunan Politeknik Industri Petrokimia di Cilegon, Banten, dan Politeknik Industri Agro di Lampung,” tambah dia.

Strategi ketiga, meluncurkan pendidikan vokasi link and match antara SMK dengan industri. Program sejak 2017 ini telah menjangkau Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. “Hingga tahap kesembilan, kami telah libatkan 2.350 SMK, 899 perusahaan dengan total 4.351 perjanjian kerja sama yang telah ditandatangani. Program ini juga mendorong peningkatan kompetensi guru produktif dan fasilitasi silver expert untuk SMK,” ia mengimbukan.

Strategi keempat, pelaksanaan pelatihan industri berbasis kompetensi bersistem 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan penempatan kerja). Program ini dapat dimanfaatkan bagi para penyandang disabilitas.

“Melalui upaya Making Indonesia 4.0, kita akan revitalisasi manufaktur dan diharapkan akan bisa meraih nilai net ekspor seperti tahun 2000, mencapai 10 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto), lalu meningkatkan produktivitas, dan membangun kemampuan inovasi lokal,” terangnya.

Haris merujuk 5 sektor manufaktur prioritas dikembangkan menyongsong Revolusi Industri 4.0 sesuai Making Indonesia 4.0, yaitu industri makanan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika.

“Kelompok manufaktur ini mampu berkontribusi 65 persen terhadap total ekspor, menyumbang 60 persen PDB, dan 60 persen tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut,”pungkasnya. (Muzzamil/Rilis/Red)

LEAVE A REPLY